energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
energi
Tambang Bawah Tanah Freeport Setop Produksi, Apa Risikonya?
Follow detikFinance
Rabu 15 Mar 2017, 18:52 WIB

Tambang Bawah Tanah Freeport Setop Produksi, Apa Risikonya?

Michael Agustinus - detikFinance
Tambang Bawah Tanah Freeport Setop Produksi, Apa Risikonya? Foto: Istimewa/Puspa Perwitasari
Jakarta - Sejak terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2017 (PP 1/2017), PT Freeport Indonesia (PTFI) tak bisa lagi melakukan ekspor konsentrat (mineral yang sudah diolah tapi belum sampai tahap pemurnian).

Berdasarkan aturan tersebut, perusahaan tambang pemegang Kontrak Karya (KK) hanya boleh mengekspor mineral yang sudah dimurnikan, tidak boleh jual konsentrat lagi karena sudah dilarang oleh Undang Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (UU Minerba).

Jika mau mengekspor konsentrat, PTFI harus mau mengubah status kontraknya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK). Tapi PTFI masih bersikeras mempertahankan KK.

Baca juga: Negosiasi Masih Alot, Pemerintah Tetap Tegas Soal IUPK Freeport

Kegiatan operasi dan produksi di Tambang Grasberg, Papua, terganggu sejak 10 Februari 2017 lalu akibat masalah ini. Produksi bijih mineral mentah (ore) dari tambang bawah tanah PTFI yang dalam kondisi normal mencapai 50.000 ton per hari kini hanya tinggal 15.000 ton atau sekitar 25% saja.

Sampai saat ini, sebagian besar produksi di tambang bawah tanah PTFI masih terhenti. Pemerintah dan PTFI masih bernegosiasi mencari solusi yang memuaskan kedua belah pihak.

Perundingan antara PTFI dan pemerintah diharapkan tidak berlarut-larut. Sebab, tambang bawah tanah PTFI menggunakan metode block caving, yaitu menggali terowongan menuju tempat cadangan bijih mineral di bawah tanah, meledakkan badan bijih hingga hancur di dalam tanah, lalu menariknya keluar secara bertahap lewat jalur-jalur terowongan yang sudah dibuat.

Metode ini mengatur tegangan di bawah tanah agar jangan sampai ambruk. Ibarat meja dengan 4 kaki, harus terus dibuat seimbang meski kaki meja dipotong satu per satu perlahan-lahan.

Ketua Umum Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandy Arif, mengungkapkan bahwa metode block caving butuh kelanjutan, jangan sampai produksi terhenti dalam waktu lama. Ada risiko yang mungkin timbul bila produksi mengalami gangguan.

"Secara umum semua sistem penambangan bawah tanah diupayakan untuk beroperasi secara kontinyu. Secara teoritis, sistem block caving membutuhkan operasi yang kontinyu karena badan bijih yang sudah terburai, akan turun dan mudah diambil dari bawah," kata Irwandy kepada detikFinance, Rabu (15/3/2017).

Dalam metode ini, produksi ibarat maintenance alias perawatan. Ketika produksi terganggu, berarti perawatannya juga kurang. Irwandy menjelaskan, badan bijih yang sudah dihancurkan di dalam tanah tetapi tidak segera ditarik keluar, akan terjadi akumulasi tekanan.

Belum lagi kalau curah hujan tinggi dan badan bijih yang sudah diledakkan di bawah tanah terkena air. Badan bijih bisa mengeras lagi dan jadi sangat sulit untuk diambil.

"Bagaimana kalau operasi berhenti berbulan-bulan? Pasti tidak diharapkan. Tapi bila terjadi, risikonya kemungkinan badan bijih yang sudah terburai akan saling mengikat kembali karena gaya gravitasi dan tertahan karena tidak ada pengambilan bijih, sehingga akan menyulitkan penambangan setelah beroperasi kembali," paparnya.

"Apakah ada cara mengatasinya? Menurut informasi dari mereka yang sudah berpengalaman bekerja di tambang bawah tanah dalam waktu yang lama di sistem block caving, hanya mereka yang bisa melakukannya, namun pekerjaan tersebut akan mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi," Irwandy menambahkan.

Risiko ini sudah pernah terjadi. PTFI kehilangan cadangan ketika pada 2011 lalu para pekerja di tambang bawah tanah mogok kerja selama berbulan-bulan. 20% cadangan di DOZ tak bisa diambil lagi karena sudah terikat kembali.

Baca juga: Sampaikan 9 Tuntutan, Warga Papua Minta Freeport Patuhi Pemerintah

Dihubungi secara terpisah, Pengamat Pertambangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa ada risiko lebih ekstrim yang dapat terjadi akibat terganggunya produksi dalam waktu lama, yaitu tambang bawah tanah kolaps.

Bijih mineral yang mengeras karena terlambat ditarik keluar mengeras, membuat tekanan di dalam tanah semakin besar, lalu terowongan ambruk akibat tak bisa menahan tekanan. Ambruknya tambah bawah tanah berarti investasi dan cadangan mineral bernilai triliunan rupiah hilang.

"Block caving dirancang dengan laju produksi tertentu dan laju produksi tersebut harus dijaga supaya tidak terjadi blocking (penyumbatan) dan kalau laju produksi tidak seperti rancangan awal, misalnya lebih kecil, maka akan terjadi penumpukan material yang bisa melebihi kekuatan pilar yang menyangga tumpukan, dan bisa ambruk. Itu yang ekstrim. Penyumbatan terjadi akan susah untuk membuat lancar kembali," tutupnya. (mca/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed