Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 13 Des 2018 14:01 WIB

Melihat Potensi Energi Terbarukan di Lombok

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Foto: (Bonauli/detikTravel) Foto: (Bonauli/detikTravel)
Jakarta - Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki potensi energi baru terbarukan (EBT) yang bisa dikembangkan untuk tenaga listrik. Ragam EBT yang bisa dikembangkan mulai dari biomassa, tenaga surya, tenaga angin, hingga sampah.

Indonesia bersama Denmark menjalin kerja sama untuk mengetahui potensi EBT di Lombok lebih jauh. Pra studi kelayakan (pre feasibility study) juga dipaparkan untuk menjelaskan keunggulan dari masing-masing potensi EBT.

"Ini adalah bagaimana meningkatkan EBT di Lombok," kata Duta Besar Denmark untuk Indonesia Rasmus Abildgaard Kristensen di Hotel Gran Melia, Jakarta Selatan, Kamis (13/12/2018).

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Saleh Abdurrahman mengatakan bahwa potensi EBT di Lombok cukup menjanjikan. Ia juga mengajak investor Denmark untuk memanfaatkan EBT di Lombok.

"Lombok bisa melakukan optimalisasi potensi daerah yang bisa ditingkatkan dalam bauran energi," kata Saleh.


Konsultan KPMG Bjarne Bach dalam presentasinya memaparkan keunggulan dari masing-masing potensi EBT yang ada di Lombok. Potensi energi hijau yang bisa dimanfaatkan untuk ketenagalistrikan di Lombok salah satunya adalah biomassa yang dimanfaatkan dari sekam padi yang banyak ditemukan di Lombok bagian timur, tengah dan barat.

Selanjutnya, tenaga surya juga sangat melimpah karena intensitas matahari di Lombok. Rata-rata tenaga surya yang bisa dimanfaatkan menjadi listrik sebesar 3,3-5,6 kWh/m2. Kemudian untuk tenaga angin atau bayu juga dimungkinkan di bagian selatan Lombok dengan rata-rata kecepatan angin 6-7 m/s.

"Rata-rata kecepatan angin 6 m/s," kata Bach.

Selain itu, masalah soal sampah juga menjadi tantangan. Diperkirakan ada 900.000 ton sampah industri dan rumah tangga setiap tahunnya yang bisa dimanfaatkan untuk listrik.

Dari sisi kapasitas pembangkit listrik yang bisa dimanfaatkan dari biomassa di Lombok sebesar 20 megawatt (MW), tenaga surya 20 MW, tenaga bayu 50 MW, dan sampah sebesar 25 MW.

Modal yang dibutuhkan untuk membangun pembangkit listrik berbeda-beda. Untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dibutuhkan modal sekitar US$ 150-225 juta atau yang paling mahal di antara sumber energi lainnya. Dengan modal tersebut, listrik yang dihasilkan bisa dijual dengan tarif US$ 13,9 sen/kWh.


Kemudian untuk Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) investasi yang dibutuhkan sekitar US$ 75-100 juta dengan tarif listrik US$ 11,8 sen/kWh. Sedangkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dibutuhkan investasi US$ 20-30 juta dengan tarif yang sama dengan PLTB dan Pembangkit Listrik Biomassa (PLTBm) dengan investasi pembangkit listrik biomassa (PLTBm) 40-60 juta dengan tarif US$ 11,8 sen/kWh.

Dari investasi tersebut, internal rate of return (IRR) atau pengembalian dari modal proyek paling besar pada PLTBm dengan kisaran 4-24%. Kemudian PLTS 7-14%, PLTB 7-16%, dan PLTSa 2-15%.



Tonton juga 'Begini Aturan Pemasangan Panel Surya Atap Rumah':

[Gambas:Video 20detik]




(ara/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com