Gas dari Batu Bara Aman Buat Lingkungan?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 22 Jul 2020 12:51 WIB
Sejumlah pekerja melakukan bongkar muat batu bara menggunakan alat berat di pelabuhan krakatau bandar samudera, Cigading, Cilegon (8/3/2013). Direktur Jendral Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi Sumber Daya Manusia (ESDM), Thamrin Shite mengatakan untuk mengendalikan produksi batu bara, pemerintah menetapkan kuota produksi secara nasional. File/detikFoto.
Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta -

Dimetyl ether (DME) bisa menjadi salah satu alternatif bahan bakar pengganti LPG. DME sendiri merupakan produk gasifikasi yang berasal dari gas bumi, limbah, biomassa hingga batu bara.

Lalu, bagaimana dampak penggunaan DME terhadap lingkungan?

Kepala Balitbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menjelaskan, dari sisi kandungan panas atau calorific value memang DME lebih rendah dari LPG.

"Kalau perbandingan kalori antara DME dan LPG 1:1,6 kalau 1 kg LPG perlu 1,6 DME," katanya dalam konferensi pers virtual, Rabu (22/7/2020).

Meski demikian, kata dia, DME lebih ramah lingkungan. Hal tercermin dari hasil penggunaan DME dan LPG.

"Misalkan terkait CO2 ini gas rumah kaca yang semua negara termasuk kita komitmen gas rumah kaca angkanya pemanfaatan LPG di negara lain di China kalau LPG per tahun per rumah tangga mengemisikan 930 kg CO2," katanya.

"Kalau dengan nanti DME akan berkurangan menjadi 745 Kg kira-kira berkurang hampir 20%," imbuhnya.

Begitu juga dengan sulfur yang menjadi sumber hujan asam. Dia mengatakan, DME tidak menghasilkan sulfur.

"Sulfur sumber hujan asam tidak ada sulfur DME sehingga tidak ada emisi yang terkait SO2 karena pembakarannya begitu sempurna," katanya.

Dia menambahkan, DME mudah terurai di udara sehingga tidak merusak ozon.

"DME mudah terurai udara tidak merusak ozon dari sisi pembakaran DMO," ujarnya.



Simak Video "Truk Pembawa Batu Bara Nyusruk di Sumedang, Nyaris Timpa Rumah!"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/eds)