Optimalkan Gas Bumi, PGN Bantu Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Nurcholis Maarif - detikFinance
Selasa, 11 Agu 2020 18:18 WIB
PGN
Foto: Dok. PGN
Jakarta -

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) siap mendukung pertumbuhan perekonomian nasional dengan optimalisasi gas bumi. Tak hanya melalui infrastruktur pipa, tetapi termasuk pengelolaan CNG dan LNG untuk memenuhi kebutuhan gas di Indonesia yang meliputi 17 provinsi dan 66 kabupaten/kota.

Sekretaris Perusahaan PGN, Rachmat Hutama menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia didorong sekitar 40% oleh sektor industri dan PGN dalam hal ini memenuhi kebutuhan gas bumi dengan harga yang kompetitif.

"Sektor industri berkontribusi sekitar 40% dari struktur ekonomi nasional. Oleh karena itu, PGN terus berupaya mendukung daya saing melalui efisiensi pada penggunaan bahan bakar, dengan menyalurkan gas bumi ke berbagai wilayah, maupun di Kawasan Industri dan Kawasan Ekonomi Khusus. Saat ini, PGN telah melayani di sekitar 41 Kawasan Industri dari 87 Kawasan Industri nasional yang ada" ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (11/8/2020).

"Selama tahun 2019, untuk mendukung pemanfaatan gas bumi dan efisiensi penggunaan bahan bakar, PGN menambah wilayah penyaluran gas bumi ke berbagai sektor industri, seperti di Dumai, PKC, dan Purwakarta-Subang. Sebagai contoh, saat ini lebih dari 128 industri di 8 Kawasan Industri di wilayah Bekasi telah menggunakan gas bumi PGN," imbuh Rachmat.

Dijelaskan Rachmat, berdasarkan volume penyaluran gas bumi ke pelanggan, segmen pelanggan komersial-industri memiliki porsi penyaluran gas bumi paling besar, yang menyerap gas bumi sebesar 99,4% dari total penyaluran gas bumi PGN.

"Ke depan, PGN siap mendukung program pengembangan Kawasan Industri sebagai penggerak ekonomi sesuai dengan RJPMN 2020-2024, yang salah satunya Kawasan Industri Batang. Kemungkinan ke depan, dilaksanakan setelah selesainya pembangunan jalur pipa gas bumi Cirebon-Semarang, PGN akan mengembangkan infrastruktur gas CNG ataupun LNG," tuturnya.

"Selain itu, PGN akan membangun dan mengelola pipa gas di ruas Sei Mengkei-Dumai untuk mendorong pertumbuhan Kawasan Industri baru di sepanjang jalur pipa tersebut," jelas Rachmat.

Menurut Rachmat, Kawasan Industri telah menjadi senada dengan proses industrialisasi dan dianggap sebagai alat yang kuat untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing, dan pertumbuhan ekonomi.

Selaras dengan komitmen tersebut, PGN sebagai subholding gas juga dalam proses penyelesaian implementasi kebijakan harga gas terhadap industri tertentu sebesar USD 6 per MMBTU sesuai dengan Kepmen ESDM 89.K/ 2020. Komitmen ini optimistis akan memberikan dampak positif dalam rangka pemulihan perekonomian industri nasional yang sempat terpukul akibat pandemik COVID-19.

Rachmat mengungkapkan dengan harga US$ 6 per MMBTU sesuai Kepmen ESDM, industri penerima manfaat yang menggunakan gas bumi sebagai energi pokok diperkirakan dapat memperoleh efisiensi yang cukup signifikan.

"Oleh karena itu, PGN group sebagai penyalur gas utama konsisten untuk melakukan monitoring keandalan pasokan dan kondisi operasional jaringan pipa gas agar pemenuhan kebutuhan gas tidak terhambat," ujar Rachmat.

Rachmat mencontohkan industri keramik menargetkan untuk mendongkrak daya saing, sementara industri sarung tangan karet harus produksi lebih karena permintaan sarung tangan karet yang tinggi di tengah pandemi.

"Dengan harga gas murah, tentu akan menurunkan beban pokok produksi, sebagai katalis positif untuk memacu efisiensi dalam proses produksi. Selanjutnya, dapat meningkatkan ekspansi investasi dalam rangka memenuhi permintaan domestik yang mulai kembali menggeliat, ekspansi pabrik untuk menyerap tenaga kerja dan memacu pengembangan produk ekspor," ujar Rachmat.

Selain itu, kata Rachmat, diharapkan komitmen PGN ini dapat mendukung target-target pelaku industri tertentu yang masih berjuang akibat pandemi COVID-19 dan menurunnya perekonomian global.

"Kami berharap serapan gas dengan harga yang kompetitif, benar-benar dapat optimal dimanfaatkan untuk bisa memulihkan kembali kegiatan operasi," ujar Rachmat.

Menurut Rachmat, industri penerima manfaat harga gas USD 6 per MMBTU, pelan-pelan akan menunjukkan progres yang semakin baik mulai pertengahan bulan Agustus ini. Penurunan harga gas untuk industri tertentu yang seiring dengan stimulus program pemerintah, juga diharapkan dapat memberi kontribusi dalam upaya pemulihan ekonomi nasional.

Rachmat berharap dari sisi daya beli masyarakat akan kembali menggeliat agar optimisme kegiatan perekonomian industri meningkat. Kata dia, pengelolaan pipa transmisi dan distribusi yang telah lebih dari 10.100 km dan akan terus dikembangkan untuk mendukung keandalan penyaluran gas bumi di berbagai wilayah.

"Dengan terkoneksinya masyarakat dengan jalur pipa gas, PGN optimis dapat meningkatkan pemanfaatan gas bagi sektor industri di wilayah baru untuk mendorong tumbuhnya titik-titik pusat ekonomi baru," ujarnya.

(prf/hns)