RI Punya Potensi Energi Terbarukan 400 Gigawatt, Baru Dimanfaatkan 2,5%

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 09 Okt 2020 15:50 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan mengajak Pemda untuk dapat mendorong penggunaan energi baru terbarukan (EBT). Salah satunya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif memaparkan besarnya potensi energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Disebutkannya, potensi EBT di RI diatas 400 gigawatt dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Sayangnya potensi sebesar itu belum dimanfaatkan secara optimal. Sebab, baru 10,5 gigawatt yang dimanfaatkan atau sekitar 2,5%.

"Saat ini potensi EBT di Indonesia diperkirakan lebih dari 400 gigawatt yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Namun yang baru termanfaatkan baru sebesar kurang lebih 10,5 gigawatt atau 2,5% dari total potensi yang ada," kata dia dalam sebuah acara virtual, Jumat (9/10/2020).

Untuk itu, Indonesia bakal menggeber pemanfaatan energi ramah lingkungan yang pada 2024 porsinya 23%, dan menjadi 30% pada 2050.

"Tentunya menjadi momentum kita bersama untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan di tanah air yang melimpah sesuai dengan rencana umum energi nasional, pada tahun 2024 peran EBT dalam bauran energi nasional diharapkan dapat mencapai 23%, terus meningkat menjadi 30% pada tahun 2050," jelasnya.

Di sisi lain, dia menilai pandemi COVID-19 turut menghambat pengembangan energi baru terbarukan, serta ditambah faktor lainnya.

Tapi pengembangan energi baru terbarukan ini juga diharapkan mampu membantu pemulihan ekonomi nasional yang terpuruk karena merebaknya virus Corona.

"Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan kondisi global dewasa ini dan merebaknya pandemi COVID-19 di berbagai belahan dunia telah memberikan tantangan tersendiri bagi proses transformasi energi nasional. Namun demikian hendaknya energi baru terbarukan dapat menjadi salah satu strategi kita dalam mendorong pemulihan perekonomian nasional pasca pandemi COVID-19," tambahnya.

(toy/fdl)