PLN Bakal Diguyur Utang Rp 8,46 T

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 26 Nov 2020 06:20 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT PLN (Persero) bakal mendapat pinjaman triliunan rupiah. Sebab, Asian Development Bank (ADB) telah menyetujui pinjaman senilai US$ 600 juta atau setara Rp 8,46 triliun (kurs RP 14.100) untuk PLN.

Bantuan tersebut untuk mendorong energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia bagian timur. Program tersebut juga mencakup dua hibah masing-masing senilai US$ 3 juta dari Japan Fund for Poverty Reduction dan Asia Clean Energy Fund.

Program pembangunan jaringan listrik ini mendukung PLN meningkatkan akses listrik dan meningkatkan keandalan layanan di 9 provinsi di Kalimantan, Maluku, dan Papua. Ini adalah kelanjutan dari tahap pertama program yang dimulai tahun 2017 dan saat itu mencakup 8 provinsi di Sulawesi dan Nusa Tenggara.

"Program ini akan meningkatkan akses listrik yang berkelanjutan, adil, dan andal bagi masyarakat di kawasan timur Indonesia, termasuk melalui pemanfaatan cahaya matahari dan sumber terbarukan lainnya," kata Direktur Bidang Energi Asia Tenggara ADB, Toru Kubo, dalam keterangannya, Rabu (25/11/2020).

"Listrik yang andal sangat penting agar masyarakat dapat mengakses peluang kerja dan layanan pendidikan serta kesehatan, terutama di masa pandemi penyakit virus Corona (COVID-19). Program ini juga akan mendukung pemulihan ekonomi di Indonesia timur dari pandemi dan berkontribusi bagi pertumbuhan yang adil dan tangguh," tambahnya.

Perekonomian Indonesia telah naik dua kali lipat sejak tahun 2000, sedangkan tingkat kemiskinan nasional telah turun ke 9,7% pada 2018, dari sebelumnya 19,1% pada 2000. Kemajuan tersebut kini terancam oleh pandemi COVID-19.

Berlanjut ke halaman berikutnya.