Pertamina Jadi yang Pertama di Asia Manfaatkan Teknologi eFTG

Khoirul Anam - detikFinance
Sabtu, 09 Okt 2021 11:23 WIB
Pertamina
Foto: dok. Pertamina
Jakarta -

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang akan melakukan survei geofisika di Cekungan Bintuni dan Salawati, Papua Barat. Dalam langkah ini, PHE memanfaatkan teknologi enhanced Full Tensor Gradiometry (eFTG).

Survei eFTG dilakukan di sepanjang 23.000 km dan mencakup area seluas 45.000 km2. Adapun kegiatan dijadwalkan akan dimulai pada 12 Oktober 2021.

Diketahui, Tim Teknis Pelaksana Teknis Survei Geofisika telah melaksanakan inspeksi keandalan dan peralatan fasilitas pesawat survei di Bandara Pondok Cabe, Banten, pada Senin (4/10).

Ketua Tim Teknis Pelaksana Teknis Survei Geofisika dan selaku Vice President New Venture Subholding Upstream Pertamina, Agung Prasetyo menyampaikan pihaknya berkomitmen melakukan kegiatan eksplorasi, baik di area eksisting maupun area frontier atau new venture dalam rangka mencari potensi cadangan hidrokarbon baru.

"Selain Cekungan Bintuni-Salawati, saat ini PHE juga sedang melakukan survei FTG terbesar di Indonesia di cekungan frontier lain di Papua dengan panjang lebih dari 31.000 km dan mencakup area seluas 60.000 km2 yang progresnya sudah mencapai lebih dari 50 persen bekerja sama dengan Rubotori Indonesia dan Bell Geospace" tambah Agung dalam keterangan tertulis, Sabtu (9/10/2021).

Kontraktor Kontrak Kerja sama (KKKS) PHE bekerja sama dengan PT Mahakarya Geo Survey dan berkolaborasi dengan AustinBridgeporth. Survei ini menggunakan pesawat survei DC3 Turbo Prop yang dimodifikasi dan dilengkapi serangkaian teknologi termasuk eFTG dengan gravimeter scalar terintegrasi, magnetometer dan sistem LiDAR VUX1-LR.

Data LiDAR yang mempunyai sudut sapuan 180 derajat ini akan menyediakan data yang akurat untuk keperluan koreksi medan data gravitasi, pemetaan fitur geologi permukaan, dan menyediakan tambahan informasi dalam merencanakan kegiatan eksplorasi.

Sementara itu, CEO Austinbridgeporth Mark Davies yang juga hadir pada pelaksanaan inspeksi peralatan mengatakan, survei eFTG ini adalah yang pertama dilakukan di Indonesia, bahkan Asia.

"Survei eFTG adalah generasi terbaru dari gradiometer gravity yang dapat memberikan beragam peningkatan pada sensitivitas dan resolusi yang melebihi teknologi generasi FTG sebelumnya," ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Rinto Pudyantoro menyampaikan, survei ini menjadi rangkaian dari kegiatan eksplorasi yang secara masif dilakukan hulu migas dalam kurun dua tahun.

"Komitmen kegiatan eksplorasi dengan sungguh-sungguh dilaksanakan oleh SKK Migas bersama KKKS, hal ini merupakan bentuk realisasi dari salah long term plan SKK Migas untuk mendukung visi produksi nasional di 2030 yakni memaksimalkan kegiatan eksplorasi," katanya.

Rinto menambahkan, saat ini ada beberapa kegiatan lain dari KKP yang sedang berjalan, yakni Survei Vibro Seismik 2D di Pulau Jawa, Survei Seismik di area Laut Indonesia bagian tengah dan timur serta Natuna, dan FTG Iwur-Akimeugah.

"Ada juga program yang sudah selesai yakni Survei Seismik 2D sepanjang 31.908 km2 yang telah dilaksanakan tahun 2019. Saat ini sedang dikaji datanya sebelum diserahkan kepada pemerintah," lanjutnya.

Direktur Eksplorasi Subholding Upstream Pertamina, Medy Kurniawan juga pada kesempatan terpisah menyampaikan, dengan penerapan teknologi terbaru dalam melakukan kegiatan eksplorasi di Pertamina termasuk eFTG, pihaknya berharap akan mendapatkan data akurat yang dapat memperbesar peluang untuk mendapatkan giant discovery cadangan migas ke depannya.

(prf/ara)