Harga Batu Bara Makin Mahal, Mati Listrik di China Berlanjut

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 12 Okt 2021 10:17 WIB
China tengah hadapi krisis pasokan listrik yang membuat sejumlah provinsi di negara itu alami mati listrik. Salah satu provinsi yang terdampak adalah Liaoning.
Foto: AP Photo/Olivia Zhang
Jakarta -

Hujan lebat yang berujung pada banjir di sejumlah wilayah China telah memaksa setidaknya 60 tambang batu bara di provinsi Shanxi tutup. Padahal tambang batu bara di provinsi ini merupakan salah satu pusat pertambangan batu bara terbesar di China.

Melansir dari CNN, Selasa (12/10/2021), provinsi Shanxi ini adalah rumah bagi seperempat dari produksi batubara negara itu. Selain itu menurut laporan dari media setempat, Securities Times, Provinsi Shanxi yang menempati urutan ketiga di negara itu untuk produksi batubara juga melaporkan kalau hujan lebat dan tanah longsor telah merugikan operasi di tambang lokal.

Tentu hal ini membuat harga batu bara nasional di negeri Tirai Bambu itu kini kian meroket. Sejauh ini harga batu bara di China telah naik sebanyak 12% menjadi 1.408 yuan (US$ 219 atau setara dengan Rp 3,1 juta bila dihitung dengan kurs Rp 14.300/dolar AS) per metrik ton.

Padahal batu bara merupakan sumber energi utama di China dan banyak digunakan untuk pemanasan, pembangkit listrik, dan pembuatan baja. Bahkan pada tahun lalu, penggunaan batu bara memenuhi hampir 60% dari total penggunaan energi China.

Hal ini menyebabkan adanya kekurangan energi telah menyebar ke 20 provinsi China dalam beberapa pekan terakhir, memaksa pemerintah untuk menjatah listrik selama jam sibuk dan beberapa pabrik untuk menangguhkan produksi. Itu merugikan output industri dan membebani prospek ekonomi China.

"Pemadaman listrik China akan menambah tekanan ekonomi, membebani pertumbuhan PDB untuk 2022. Risiko terhadap perkiraan PDB bisa lebih besar karena gangguan pada produksi dan rantai pasokan masuk," kata analis Moody dalam laporan Senin.

Guna mengatasi masalah tersebut, pemerintah pusat China pada hari Jumat lalu telah mengizinkan pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menaikkan harga tarif listrik sebanyak 20%.

"Sejak awal tahun ini, harga energi di pasar internasional telah meningkat tajam, dan pasokan listrik dan batu bara domestik tetap ketat," kata salah seorang Dewan Kabinet negara itu dalam sebuah pernyataan.

"Faktor-faktor itu telah menyebabkan pemadaman listrik di beberapa tempat, mempengaruhi operasi ekonomi normal dan kehidupan penduduk," jelasnya lagi.

(das/das)