Krisis Energi Landa Berbagai Negara, Apa Ya Pemicunya?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 19 Okt 2021 17:43 WIB
Petrol pumps out of use at a petrol station in London, Wednesday, Sept. 29, 2021. Prime Minister Boris Johnson sought to reassure the British public Tuesday that a fuel-supply crisis snarling the country was “stabilizing,” though his government said it would be a while before the situation returns to normal. Johnsons government has put army troops on standby to help distribute gasoline and help ease a fuel drought, triggered by a shortage of truck drivers, that has drained hundreds of pumps and sent frustrated drivers on long searches for gas. (AP Photo/Frank Augstein)
Foto: AP/Frank Augstein
Jakarta -

Pertemuan Tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank pada 13 Oktober 2021 juga membahas terkait krisis energi. Dalam pembahasan tersebut masalah ini disebut hanya berlangsung sementara.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengungkapkan banyak negara sudah mulai memproduksi dan menerapkan energi baru terbarukan atau renewable energy.

"Ini masalah cuaca, sehingga berakibat terganggunya hydropower plant," kata dia dalam konferensi pers, Selasa (19/10/2021).

Sebelumnya akibat krisis energi ini banyak negara yang kesulitan mendapatkan pasokan energi. Seperti China yang merupakan pengekspor energi dunia kini sedang melakukan pembicaraan dengan perusahaan pengembang dan eksportir gas alam cair asal Amerika.

Demi memenuhi kebutuhan energi akibat langkanya batu bara, China saat ini juga telah mengupayakan menahan kenaikan harga. Termasuk meningkatkan produksi batubara domestik dan memangkas pasokan ke industri yang konsumsi listriknya besar.

Sebagai informasi, krisis batu bara di China telah menyebabkan krisis listrik dan mengakibatkan listrik padam di beberapa daerah di China.

Hujan lebat yang berujung pada banjir di sejumlah wilayah China telah memaksa setidaknya 60 tambang batu bara di provinsi Shanxi tutup. Padahal tambang batu bara di provinsi ini merupakan salah satu pusat pertambangan batu bara terbesar di China.

Selain krisis energi, Dody menyebut pertemuan juga membahas inflasi tinggi yang terjadi di AS. Namun kondisi ini disebut hanya sementara dan diprediksi berlangsung hingga pertengahan tahun 2022.

Inflasi AS memang menjadi perhatian berbagai kalangan karena kondisi ini disebut-sebut bisa berlangsung lama. Kondisi ini bisa mempengaruhi besaran suku bunga bank sentral.

Jika terjadi maka akan berdampak besar karena pertumbuhan ekonomi bisa terhambat apalagi ditambah pasar tenaga kerja yang melambat.

Lalu kesepakatan lainnya dari pertemuan tahunan IMF-WB Group juga menyepakati bahwa distribusi vaksinasi bukan hanya masalah herd immunity yang besar, tapi distribusi secara merata akan dilakukan.

Hal tersebut, kata Dody merupakan komitmen bersama atau join action negara-negara G20 untuk mengatasi masalah vaksinasi yang kurang, terutama negara-negara berkembang atau emerging market. "Dengan vaksinasi membantu investasi pulih di beberapa negara," ujar dia.

(kil/dna)