Swasta Mulai Lirik Pengembangan Listrik EBT, Ini Buktinya

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 20 Des 2021 20:30 WIB
Funky Lighting In Modern Office
Foto: Getty Images/iStockphoto/Thurtell
Jakarta -

Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) mulai dilirik swasta. Hal itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerjasama Pembangunan Tanaman Industri Kayu Energi (Biomassa) dalam Kawasan Hutan Produksi di Areal Kerja IUPHHK-HTI PT Inhutani III Kalimantan Barat, antara PT Inhutani III dengan Konsorsium Indoplas-CEL (PT Indoplas Makmur Lestari dan PT Cipta Energi Lestari).

Melalui kerjasama ini, kedua pihak sepakat bekerja sama dalam mengembangkan Hutan Tanaman Industri (HTI).

"Kami akan membangun HTI kayu energi dan jenis lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku, lengkap mulai dari pembuatan persemaian, pembibitan, penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan hingga penjualan. Lokasinya terletak di dalam areal IUPHHK-HTI PT Inhutani III Kabupaten Melawi & Sintang Provinsi Kalimantan Barat," kata Direktur Inhutani III Hezlisyah Siregar dalam keterangannya, Senin (20/12/2021).

Indonesia telah berkomitmen untuk melakukan penurunan emisi. Sebagaimana ditegaskan pada COP 26 pada 2 November 2021 lalu, Indonesia akan dapat berkontribusi lebih cepat bagi net zero emission dunia. Salah satu langkah konkret untuk menurunkan emisi adalah dengan melakukan diversifikasi energi fosil dengan energi terbarukan, sesuai dengan yang sudah ditetapkan yakni 23% pada tahun 2025 mendatang.

"Sampai dengan tahun 2020 bauran energi primer energi baru terbarukan (EBT) baru mencapai 11,2%, masih memerlukan upaya yang kongkret dan terencana untuk mencapai target bauran 23% di tahun 2025," kata Bobby Gafur Umar Presiden Direktur/CEO PT Indoplas Energy.

"Sektor energi memegang sepertiga atau 38% dari emisi yang harus kita turunkan, termasuk pengadaan listrik," tambahnya.

Bobby mengatakan, potensi pengembangan PLTBm (Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa) sebagai penyedia atau sumber tenaga listrik oleh PLN sesungguhnya sangat besar. Namun, pengembangan pembangkit listrik tersebut harus diikuti dengan ketersediaan sumber pasokan bahan bakar (feed stock) yang cukup untuk kelangsungan operasi pembangkit selama masa PJBL (30 Tahun).

"Seperti diketahui, PT Inhutani III mempunyai HTI yang cukup luas di wilayah kerja Kalimantan Barat," katanya.

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN 2021-2030 sendiri telah ditetapkan di mana ada penambahan kapasitas EBT 20,9 GW (51,6%) dan dikembangkan secara merata di semua sistem kelistrikan dengan memperhatikan neraca daya sistem.

"Besaran 51,6% ini adalah 'rekor baru' sejarah kelistrikan Indonesia. Ini adalah green RUPTL, belum pernah ada sebesar ini," kata Bobby.

RUPTL ini membuka peran IPP lebih besar termasuk dalam pengembangan pembangkit berbasis EBT. Dalam RUPTL ini juga tidak ada lagi rencana PLTU baru kecuali yang sudah comitted dan masuk pada tahapan konstruksi. Hal ini juga membuka ruang yang cukup besar untuk pengembangan EBT menggantikan rencana PLTU dalam RUPTL sebelumnya.

(acd/das)