PLN Kebut Infrastruktur Pendukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Atta Kharisma - detikFinance
Kamis, 31 Mar 2022 17:16 WIB
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan dukungan kepada pemerintah untuk mempercepat terbentuknya ekosistem kendaraan listrik.
Foto: Dok. PLN
Jakarta -

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan dukungan kepada pemerintah untuk mempercepat terbentuknya ekosistem kendaraan listrik. Pihaknya akan menyiapkan segala infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU) hingga layanan home charging.

Hingga Februari 2022, total SPKLU yang telah beroperasi secara nasional sebanyak 267 unit di 195 lokasi. Adapun total SPKLU yang dimiliki PLN sebanyak 120 unit dan tersebar di 92 lokasi. Sementara untuk home charging, hingga saat ini total pelanggan yang terpasang mencapai 226 pelanggan. Akhir tahun 2022 ini, PLN menargetkan 580 SPKLU demi memudahkan para pengguna kendaraan listrik.

"Penambahan seluruh infrastruktur kelistrikan ini merupakan upaya PLN dalam meningkatkan layanan dengan memberikan kemudahan bagi pengguna kendaraan listrik dan untuk menarik minat masyarakat beralih menggunakan kendaraan listrik," terang Darmawan, dalam keterangan tertulis, Kamis (31/3/2022).

Lebih lanjut Darmawan menjelaskan pihaknya pun memberikan promo berupa insentif bagi para pemilik kendaraan listrik, yaitu diskon tambah daya dan pemasangan home charging secara gratis. Tak hanya itu, diskon tarif listrik sebesar 30% juga diberikan kepada pemilik kendaraan listrik yang melakukan pengisian daya baterai mobil listrik melalui fasilitas home charging pada pukul 22.00 hingga 05.00 WIB.

"Kami juga telah bekerja sama dengan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk mendukung pembiayaan pembangunan SPKLU di Tanah Air," sambung Darmawan.

Darmawan berharap keseriusan PLN mendukung tumbuhnya ekosistem kendaraan listrik ini dapat membantu pemerintah dalam menekan subsidi BBM di APBN, menghemat devisa serta menciptakan kemandirian energi nasional.

"Dengan konversi kendaraan yang berbasis BBM ke listrik, kita akan beralih dari energi impor ke domestik, energi mahal menjadi murah, dan dari emisi tinggi menjadi rendah," pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan transisi ke mobil listrik sebagai sebuah keharusan. Menurutnya, hal tersebut dapat menekan impor dan subsidi bahan bakar minyak (BBM) sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih.

"Transisi menuju mobil listrik ini jadi sebuah keharusan. Karena dengan memakai mobil listrik masyarakat juga bisa lebih berhemat. Dari data yang ada harga satu liter bensin Rp 15.000-Rp 17.000. Satu liter itu setara 1,5 kWh, menurut hitungan Pak Dirut PLN harganya 10 persen jadi Rp 1.500," ujar Airlangga.

Berlanjut ke halaman berikutnya >>>