ADVERTISEMENT

Jumpa Perdana Menteri Australia, Airlangga Bahas Isu Transisi Energi

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Rabu, 08 Jun 2022 15:22 WIB
Airlangga Hartarto dan PM Australia
Foto: Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Airlangga Hartarto bertemu dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada Senin (6/6) lalu. Dalam pertemuan itu, Airlangga membahas kerja sama perdagangan Indonesia-Australia serta isu transisi energi, termasuk investasi pendanaan iklim.

Airlangga menyatakan Australia adalah salah satu mitra internasional terpenting Indonesia. Hubungan perdagangan antara kedua negara, kata dia, terjalin kuat dengan nilai perdagangan bilateral mencapai lebih dari US$ 8 miliar. Hubungan tersebut dikatakan Airlangga semakin erat sejak penandatanganan IA-CEPA pada 201.

Isu transisi energi juga menjadi topik pembicaraan antara Airlangga dan Anthony. Airlangga mengungkapkan kondisi lingkungan dan perubahan iklim menjadi perhatian serius Pemerintah Indonesia.

Airlangga menuturkan dalam beberapa tahun terakhir perubahan iklim telah menimbulkan dampak langsung terhadap kelangsungan hidup masyarakat Indonesia dan dunia. Oleh sebab itu, Indonesia bergerak untuk menurunkan emisi dan memperbaiki kualitas lingkungan.

Airlangga menjabarkan seperti tertuang dalam NDC, Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi sebesar 29% hingga 41% pada tahun 2030. Ia menekankan target tersebut dapat dicapai asalkan persyaratan investasi terpenuhi.

"Meningkatkan Pendanaan Iklim sangat penting untuk memenuhi tujuan ini. Komitmen Australia untuk mendukung upaya ini menunjukkan komitmen mereka untuk bermitra dengan kami," ungkap Airlangga dalam keterangan tertulis, Rabu (8/6/2022).

Menurut mantan Menteri Perindustrian itu, investasi adalah kunci untuk membuka masa depan yang lebih sejahtera dan berkelanjutan. Untuk itu, ia mengapresiasi Australia yang memberikan dana hibah senilai US$ 200 juta untuk ketahanan iklim.

"Kami senang Anda bekerja sama dengan kami untuk menyediakan 200 juta (US$) dalam pendanaan iklim," sebut Airlangga.

Airlangga menyatakan Indonesia dan Australia memiliki tujuan yang sama dalam mencapai Net Zero Emission pada tahun 2050. Ia pun optimistis melalui pendanaan iklim dan pertukaran pengetahuan target tersebut dapat dicapai.

"Kami berharap dapat berkonsultasi dengan mitra kami di Australia saat kami meluncurkan Peta Jalan Net Zero pertama kami dalam beberapa bulan mendatang," ungkap Airlangga.

Airlangga juga berharap Australia sebagai mitra penting Indonesia di panggung internasional dapat mendukung rencana Presiden Joko Widodo untuk kesepakatan global G20 tentang transisi energi. Hal ini dikatakannya untuk memastikan transisi yang adil dan merata bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, dan memastikan bahwa tidak ada trade-off antara standar hidup dan tindakan iklim.

"Kami juga terbuka untuk diskusi tentang cara lain untuk mendukung transisi yang adil ini dengan cara yang lebih konkret, termasuk, mungkin, dukungan Australia untuk Mekanisme Transisi Energi Bank Pembangunan Asia, atau melalui kemitraan transisi energi G7 yang adil," papar Airlangga.

"Kami juga berharap dapat menyatukan aktor-aktor sektor swasta dari negara kami, dan memobilisasi mereka sebagai pendukung utama transisi energi," imbuhnya.



Simak Video "Airlangga Diundang Nonton Piala Dunia 2022 oleh Menkeu Qatar"
[Gambas:Video 20detik]
(fhs/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT