ADVERTISEMENT

Tahan Harga BBM biar Nggak Naik 2x Lipat, APBN Bengkak Rp 3.000 T

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 27 Jun 2022 18:00 WIB
Warga melakukan pengisian BBM jenis Pertamax di SPBU Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (30/3/2022). Kabar berhembus BBM Ron 92 Pertamax bakal naik pada 1 April 2022. Kenaikan harga ini memang santer dikabarkan seiring dengan melejitnya harga minyak dunia.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -
"Ini menyebabkan postur APBN kita naik dari Rp 2.750 triliun kemungkinan di atas Rp 3.000 triliun"Menteri Keuangan Sri Mulyani

Pemerintah menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), LPG 3 kilogram (kg), dan listrik di tengah kenaikan harga minyak dunia. Hal itu membuat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini bengkak.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan anggaran belanja negara tahun ini bisa mencapai Rp 3.000 triliun. Hal itu juga telah dilaporkan Badan Anggaran DPR RI dan disetujui ada peningkatan Rp 392,3 triliun, dari Rp 2.714,2 triliun menjadi Rp 3.106,4 triliun.

"Ini menyebabkan postur APBN kita naik dari Rp 2.750 triliun kemungkinan di atas Rp 3.000 triliun," kata Sri Mulyani dalam acara Merdeka Belajar Kemendikbud, Senin (27/6/2022).

Untuk anggaran subsidi dan kompensasi energi, ditambah Rp 350 triliun sehingga jumlahnya menjadi Rp 502,2 triliun. Jumlah itu naik tinggi dari yang dialokasikan APBN sebelumnya Rp 152,5 triliun.

Rinciannya Rp 350 triliun itu untuk tambahan subsidi energi sebesar Rp 74,9 triliun dan tambahan pembayaran kompensasi sebesar Rp 275 triliun yang terdiri dari BBM Rp 234 triliun dan listrik Rp 41 triliun.

Seperti diketahui harga minyak dunia naik dua kali lipat dalam waktu singkat. Awalnya pemerintah dan DPR dalam APBN 2022 mengasumsikan harga minyak US$ 63 per barel, kini mencapai level US$ 120 per barel.

Indonesia bisa dibilang beruntung karena harga komoditas lain juga ikut naik khususnya yang merupakan ekspor andalan sehingga ada tambahan dana yang cukup besar bisa dialihkan kepada subsidi. Untuk itu, pendapatan negara juga dipatok naik Rp 420,1 triliun, dari semula Rp 1.846,1 triliun menjadi Rp 2.266,2 triliun.

Nah tambahan pendapatan negara untuk menahan harga BBM sehingga kenaikan harga minyak dunia tidak langsung dirasakan masyarakat.

"Kalau tidak, seluruh BBM itu sudah naik paling tidak 2x lipat, tapi kita tidak passthru itu maka subsidi harus naik. Jadi subsidi yang Bapak dan Ibu sekalian nikmati dalam bentuk listrik, tadi ke sini naik mobil even Anda berargumen pakai Pertamax, itu masih jauh di bawah harga. You actually enjoy subsidy," tuturnya.

(aid/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT