Pertamina Kalah Profit dari Petronas, Gara-gara Sering Tahan Harga BBM?

ADVERTISEMENT

Pertamina Kalah Profit dari Petronas, Gara-gara Sering Tahan Harga BBM?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Senin, 11 Jul 2022 18:45 WIB
Pemerintah lagi-lagi mengungkapkan soal rencana kenaikan harga BBM subsidi pada bulan Juni 2013 mendatang. Harga bensin premium akan naik menjadi Rp 6.500/liter, dan solar harganya menjadi Rp 5.500/liter.
Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Jakarta -

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pertamina (Persero) kerap mendapatkan kritik dari masyarakat. Salah satunya terkait pencapaian Pertamina yang tidak sebaik Badan usaha minyak dan gas Malaysia, Petroliam Nasional Berhad atau Petronas.

Berdasarkan catatan detikcom, Pertamina berhasil membukukan laba tahun 2021 sekitar Rp 29,3 triliun. Di tahun yang sama, Petronas berhasil meraup laba sekitar Rp 164,4 triliun.

Lantas, apa yang menyebabkan pencapaian Pertamina kalah jauh dari Petronas?

Pengamat energi Mamit Setiawan menuturkan, Petronas merupakan pemain migas di sektor hulu yang diperhitungkan. Ekspansi yang dilakukan Petronas juga cukup luas, memberikan profit yang besar dibandingkan Pertamina.

"Perlu dipahami, Petronas itu pemain di sektor hulu. Ekspansinya ke negara-negara lain jauh dibandingkan Pertamina. Pengeboran di luar banyak, itu kasih kontribusi saat harga minyak dunia sedang mengalami kenaikan," ucap Mamit saat dihubungi detikcom, Senin (11/7/2022).

Langkah jual rugi yang diambil Pertamina turut mempengaruhi nilai profit yang diperoleh. Selain itu, Pertamina juga hanya mengandalkan pasar dalam negeri. Pertamina dianggap kurang bisa memanfaatkan kenaikan harga minyak dunia secara optimal.

Hal yang berkontribusi atas profit pertamina saat ini adalah dari sektor hulu. "Saat ini kan pertamina perusahaan yang konsolidasi dari hulu ke hilir. Meskipun hilir berdarah-darah, paling tidak ada keuntungan dari sektor hulu yang menopang," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah, Pertamina dan petronas punya operasional usaha yang berbeda. Hal tersebut berpengaruh pada perbedaan pendapatan keduanya.

"Kan banyak yang mengkritik Pertamina, kok nggak bisa untung seperti Petronas? Padahal kalo kita lihat, Pertamina sama Petronas operasional usahanya saja berbeda," kata Piter.

Menurutnya, Pertamina punya banyak program yang harus dilaksanakan, serta menyelaraskan program tersebut dengan kebijakan pemerintah. Artinya, Pertamina tidak semata-mata mengejar profit saja.

Di sisi lain, Petronas sebagai pesaing Pertamina tidak terbebani oleh hal tersebut. Piter menyebut itulah yang menyebabkan harga BBM di Malaysia tidak semahal seperti di Indonesia.

Namun, Piter mengingatkan bahwa Pertamina memiliki program-program yang harus dijalankan.

"Coba kita lihat, ada nggak Petronas kasih program satu harga?" lanjut Piter.

Piter menambahkan, distribusi BBM yang dilakukan Petronas hanya berkisar di Semenanjung Malaya dan Pulau Kalimantan. Sementara Pertamina harus mendistribusikan BBM sampai ke Jayapura, Ambon, dan lainnya.

Menurutnya, rantai distribusi panjang inilah yang benar-benar menguras keuntungan Pertamina.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT