Stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU Shell banyak yang kosong. Kekosongan stok ini terjadi karena pengajuan impor BBM oleh Shell belum disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman mengatakan pengajuan kuota impor BBM oleh Shell masih dalam proses evaluasi.
"Kalau yang Shell khusus masih dievaluasi. Kita evaluasi juga pada saat mereka order. Kan kemarin tuh tahun 2025 tuh ini sudah order, ini udah order. Nah, ini ada yang nggak order-order, kita evaluasi dong," ujarnya di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).
Ketika ditanya apakah akan ada penambahan kuota impor BBM, Laode menyampaikan mirip seperti 2025. Asal tahu saja, pada 2025 kuota impor BBM swasta naik 10% dibandingkan 2024.
"Kuota saya jawab satu kata mirip tahun 2025," kata Laode.
Laode menambahkan, izin impor BBM tahun ini akan diberlakukan per enam bulan. Ia bilang, kebijakan ini dilakukan untuk memberikan ruang bagi pemerintah dalam memantau dinamika konsumsi BBM nasional sekaligus memberikan kepastian waktu bagi badan usaha untuk mengajukan perpanjangan izin.
"Intinya kenapa 6 bulan? Kita ada waktu untuk melihat dinamika konsumsi, satu. Dan kedua, kita ada waktu untuk mereka mengusulkan kembali perpanjangannya. Kalau kemarin kan baru ngajuin, nggak taunya habis ngajuin lagi. Nah itu sudah belajar dari kita jadi diberikan timelinenya," katanya.
Sebagai informasi, saat ini BBM jenis bensin di sejumlah SPBU Shell banyak yang kosong. Berdasarkan laman resmi per tanggal 5 Februari 2026, stok BBM jenis Shell Super hanya tersedia di area Jawa Timur.
Kemudian, jenis BBM Shell V-Power tidak tersedia di seluruh SPBU jaringan Shell. Kondisi ini juga terjadi pada BBM jenis Shell V-Power Nitro+.
(hrp/hns)