PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) mengevakuasi 19 pegawai yang bekerja di Timur Tengah. Terdiri dari 11 orang di Basra (Irak) dan 8 orang di Dubai (Uni Emirat Arab).
Proses evakuasi dari Basra hingga tiba di Jakarta memakan waktu hingga 14 hari. Direktur Utama PIEP Syamsu Yudha mengatakan proses evakuasi yang lama tersebut terjadi karena adanya penutupan sejumlah bandara internasional, seperti di Kuwait City, Dubai dan Doha. Ia menegaskan keselamatan Perwira merupakan prioritas utama perusahaan.
"Kami juga terus memonitor situasi secara real-time guna memastikan perlindungan optimal bagi seluruh personel," ujar Syamsu dalam keterangan tertulis, Kamis (11/3/2026).
Syamsu menjelaskan untuk assessment contingency plan rute evakuasi, sehingga bila ada penutupan air space akan memudahkan proses evakuasi ke depan.
Pertamina Irak Eksplorasi & Produksi (PIREP) bergerak cepat dengan mengaktifkan Emergency Response Team (ERT) segera setelah menerima informasi terkait serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Selain melakukan pemantauan intensif, PIREP secara paralel juga memperkuat komunikasi dan koordinasi strategis dengan KBRI Baghdad, KBRI Kuwait City, KBRI Riyadh, KBRI Abu Dhabi, serta Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia guna memonitor perkembangan situasi dan mengantisipasi dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah.
Perwira PIREP menempuh perjalanan darat dari Basra, Irak menuju perbatasan di Safwan dan masuk ke negara Kuwait, dilanjutkan menuju Dammam, Saudi Arabia.
Setelahnya seluruh personel menempuh perjalanan udara dari Dammam menuju Jeddah dan dilanjutkan ke Indonesia. Sebagian personel tiba di Jakarta tanggal 10 Maret 2026, sedangkan sisanya baru tiba tanggal 11 Maret 2026.
"PIEP juga menghubungi keluarga seluruh Perwira PIREP untuk menyampaikan kondisi terkini secara langsung, sekaligus menyediakan saluran komunikasi hotline 24 jam guna memastikan keluarga memperoleh informasi dan dukungan yang diperlukan," kata Syamsu.
(hrp/hns)