Holding BUMN pertambangan MIND ID mencatat kinerja keuangan positif sepanjang 2025 di tengah tekanan geopolitik dan kondisi makroekonomi global. Saat ini MIND ID sedang dalam proses penyelesaian audit keuangan konsolidasian tahun 2025
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin melaporkan berdasarkan angka sementara, laba bersih MIND ID mencapai Rp 29 triliun atau 13% di atas target.
Kemudian pendapatan sebesar Rp 159 triliun atau 4% di atas target. Sementara itu, EBITDA tercatat mencapai Rp 42 triliun atau 3% melampaui target yang ditetapkan.
"Pencapaian kinerja keuangan ini merupakan hasil dari optimalisasi kinerja operasional ditengah tantangan yang ada serta pengendalian biaya," ujar Maroef dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR, Senin (13/4/2026).
Maroef juga menyampaikan realisasi 2025 untuk produksi aluminium oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mencapai 280 ribu ton. Angka ini melampaui target 275 ribu ton. Sementara produksi batu bara PT Bukit Asam Tbk meningkat 5% menjadi 49,5 juta ton.
Kemudian produksi bijih bauksit Antam melonjak 85% menjadi 5,3 juta wet metric ton (WMT) pada tahun 2025. Komoditas timah juga tumbuh signifikan sebesar 63% menjadi 29,1 ribu ton.
Produksi feronikel Antam meningkat 14% menjadi 18,4 ribu ton nikel dalam feronikel. Untuk komoditas emas, MIND ID menargetkan peningkatan produksi sekitar 6% yang didukung kinerja Antam dan PT Freeport Indonesia pada tahun 2026.
Untuk feronikol ditargetkan meningkatkan 14% menjadi 18,4 ribu ton. Target 2026 nikel mate PT Vale Indonesia sebesar 68 ribu ton, selaras dengan rencana perawatan pabrik Sorowako PT Vale Indonesia.
Maroef menambahkan, ke depan MIND ID meningkatkan kinerja yang fokus proyek-proyek hilirisasi yang bernilai tambah, pembuatan manajemen risiko, serta peningkatan kontribusi MIND ID bagi perekonomian nasional.
Pada 2026, MIND ID memposisikan tahun ini sebagai fondasi strategis untuk mencapai target jangka panjang, khususnya dalam meningkatkan keberlanjutan dan optimalisasi nilai dari seluruh portofolio tambang.
"Perolehan RKAB secara tepat waktu, ketersediaan peralatan yang dapat menunjang peningkatan produksi, serta peningkatan kapasitas logistik menjadi kunci agar target-target operasional ini dapat dicapai pada tahun 2026," ujarnya.
(hrp/hns)