Uni Emirat Arab (UEA) buka-bukaan alasan keluar dari asosiasi negara penghasil minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan OPEC+. Menteri Energi UEA Suhail Mohamed Al Mazrouei menekankan keputusan ini bukan keputusan politik, melainkan murni sebagai perwujudan visi ekonomi negara tersebut.
Sebelumnya, UEA mengumumkan awal bulan ini mereka akan keluar dari OPEC. Negara itu telah menjadi anggota asosiasi tersebut sejak 1967.
"Keputusan ini diambil setelah penilaian komprehensif terhadap kebijakan produksi nasional dan kemampuan masa depan, dan semata-mata didasarkan pada kepentingan nasional Uni Emirat Arab, tanggung jawabnya sebagai pemasok energi yang andal, dan komitmen teguhnya untuk menjaga stabilitas pasar. Keputusan ini tidak didasarkan pada pertimbangan politik apa pun, dan juga tidak mencerminkan adanya perpecahan antara Uni Emirat Arab dan para mitranya," kata Al Mazrouei dikutip dari CNBC, Senin (18/5/2026).
Baca juga: UEA Tiba-tiba Cabut dari OPEC! |
Al Mazrouei menyatakan, keputusan keluar dari OPEC merupakan pilihan kedaulatan dan strategis yang berasal dari visi ekonomi jangka panjang negara, evolusi kemampuan negara di sektor energi, dan komitmen teguh terhadap keamanan energi global.
Sebelum perang, UEA memproduksi minyak lebih dari 3 juta barel per hari, secara umum jumlahnya sesuai dengan target OPEC+. Bahkan negara tersebut sempat menargetkan kapasitas produksi minyak 4,9 juta barel per hari. Sekarang, karena perang, UEA hanya memproduksi minyak 1,8-2,1 juta barel per hari.
UEA merupakan anggota OPEC yang paling berpengaruh setelah Arab Saudi. Negara tersebut merupakan salah satu dari sedikit anggota yang memiliki kapasitas produksi cadangan yang signifikan untuk memepngaruhi harga dan menanggapi guncangan pasokan minyak.
Kapasitas cadangan merupakan produksi yang menganggur yang dapat diaktifkan dengan cepat untuk mengatasi krisis besar. Arab Saudi dan UEA bersama-sama mengendalikan sebagian besar total kapasitas cadangan dunia yang lebih dari 4 juta barel per hari, menjadikan mereka sangat berpengaruh pada pasar minyak dunia.
Pada Jumat, UEA juga mengatakan akan mempercepat pembangunan jalur pipa baru Barat-Timur ke Fujairah. UEA berupaya memperluas kapasitas ekspor minyaknya dan menghindari hambatan di Selat Hormuz.
Proyek ini, yang diperkirakan beroperasi pada 2027 dan dapat menggandakan kapasitas ekspor perusahaan pelat merah Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC).
(hal/ara)