Harga minyak naik lagi hari ini setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling serang. Hal ini menjadi bukti betapa rapuhnya kesepakatan perdamaian sementara kedua negara dan dapat memperlambat logistik energi di Selat Hormuz.
Dikutip dari Reuters, Senin (29/6/2026), kontrak minyak mentah Brent naik 52 sen, atau 0,672%, menjadi US$ 72,51 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di US$ 69,94 per barel, naik 71 sen, atau 1,03%.
Minyak mentah Brent turun 10,6% pekan lalu, penurunan mingguan yang ketiga kali sejak perdamaian AS dan Iran disepakati. Penurunan juga terjadi setelah pengiriman minyak mentah melalui selat tersebut mengalami kenaikan pekan lalu ke level tertinggi sejak konflik yang terjadi sejak bulan Februari.
Lalu lintas energi di Timur Tengah kini telah melambat lagi setelah serangan baru terhadap kapal-kapal di selat tersebut terjadi sejak Kamis pekan lalu. Kapal tanker minyak yang terkait dengan Qatar menjadi salah satu korbannya dan memicu saling serang antara AS dan Iran dalam eskalasi terburuk sejak kedua belah pihak menandatangani kesepakatan perdamaian sementara.
"Pasar kemungkinan akan mengevaluasi kembali asumsinya tentang pemulihan cepat pasokan minyak dari Teluk Persia," kata analis ANZ dalam sebuah catatan.
Sebelumnya demi menekan kenaikan harga minyak, Iran dan AS sepakat untuk menghentikan peperangan di wilayah Teluk dan melanjutkan pembicaraan di Qatar mengenai perselisihan mereka atas Selat Hormuz.
Sementara itu, raksasa minyak Saudi Aramco melanjutkan pemuatan minyak mentah pada hari Jumat di terminal Ras Tanura yang lokasinya di sebelah barat Selat Hormuz. Fasilitas itu telah dihentikan selama hampir empat bulan, operasinya berjalan lagi seiring dengan gelombang pengiriman kargo yang kembali berjalan setelah keselak perdamaian.
Pemuatan di terminal Ras Tanura milik Aramco terus berlanjut, bahkan setelah sebuah helikopter milik perusahaan tersebut jatuh pada hari Minggu di Ras Tanura. Insiden itu menewaskan 14 warga negara.
Simak Video "Video: Harga Minyak Meroket, Negara-negara OPEC+ Siap Genjot Produksi"
(hal/ara)