×
Ad

Houthi Serang Kilang Milik Raksasa Minyak Arab Saudi

Andi Hidayat - detikFinance
Minggu, 09 Agu 2026 21:00 WIB
Ilustrasi kilang/Foto: Zbynek Burival/Unsplash
Jakarta -

Pasukan bersenjata Houthi Yaman dikabarkan melakukan serangan terhadap kilang milik raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, Minggu (9/8/2026) pagi. Meski begitu, pemerintah Arab Saudi memastikan tidak ada korban luka imbas serangan tersebut.

Dikutip dari CNBC, serangan Houthi Yaman menyasar kilang Saudi Aramco di Jazan. Hingga siang tadi, petugas pemadang kebakaran dikabarkan tengah berupaya memadamkan api di kilang tersebut.

"Pihak berwenang yang berwenang sedang menyelesaikan prosedur yang diperlukan untuk menangani insiden tersebut," tulis Kementerian Energi Arab Saudi dalam unggahan resmi X, dikutip dari CNBC, Minggu (9/8/2026).

Kelompok bersenjata yang didukung Iran itu juga mengonfirmasi serangan dilakukan oleh pesawat tak berawak. Serangan ini dilakukan menyusul pelanggaran wilayah udara yang diduga dilakukan Arab Saudi di langit Yaman.

"Angkatan Bersenjata Yaman mengatakan mereka menyerang kilang Aramco milik Arab Saudi di Jizan pada hari Minggu, dan menggambarkan serangan pesawat tak berawak itu sebagai serangan yang tepat sasaran dan dilakukan sebagai tanggapan atas pelanggaran wilayah udara Yaman oleh pesawat tak berawak Saudi," tulis laporan kantor berita Iran, Mehr.

Kelompok Houthi sebelumnya mengaku bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco sejak awal perang. Serangan tersebut terjadi ketika Iran dan Amerika Serikat (AS) belum kembali menggelar pembicaraan langsung untuk membahas perdamaian.

Jeda pertempuran antara AS dan Iran setelah nota kesepahaman pada 17 Juni juga hanya berlangsung singkat. Setelah itu, Iran melancarkan serangkaian serangan drone dan rudal selama berminggu-minggu terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta negara-negara Teluk di sekitarnya.

AS kemudian membalas dengan menyerang sejumlah target di Iran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengaku tidak terlibat dalam pembicaraan apapun dengan AS. Namun dalam proses negosiasi, Oman telah menjadi juru bicara kunci, terutama dalam isu pelik Selat Hormuz.

"Pembicaraan dengan Oman tidak berarti Selat Hormuz akan dibuka kembali. Kesepakatan mungkin tercapai, tetapi pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada kondisi lain yang disampaikan melalui perantara," kata Araghchi.

Araghchi mengatakan sebelumnya juga sempat menyebut Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan untuk menentukan navigasi khusus rute transit.

Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menjamin kebebasan pergerakan dapat tercapai paling cepat pada Rabu.

Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga memberi sinyal positif bahwa kesepakatan tersebut semakin dekat untuk difinalisasi.




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork