Bukan Elon Musk, Ini Orang Pertama yang Terima Bitcoin buat Beli Mobil

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 10 Feb 2021 11:07 WIB
Elon Musk founder, CEO, and chief engineer/designer of SpaceX speaks during a news conference after a Falcon 9 SpaceX rocket test flight to demonstrate the capsules emergency escape system at the Kennedy Space Center in Cape Canaveral, Fla., Sunday, Jan. 19, 2020. (AP Photo/John Raoux)
Elon Musk/Foto: AP
Jakarta -

Baru-baru ini, dunia mata uang kripto diguncang lagi. Pendiri Tesla, Elon Musk yang berencana menerima bitcoin (BTC) sebagai alat pembayaran pada penjualan mobil-mobilnya telah mengerek harga mata uang kripto terpopuler tersebut hingga 10%, atau naik menjadi Rp 639 juta per keping.

Namun ternyata, Elon Musk bukanlah orang pertama yang menawarkan penggunaan BTC untuk pembelian mobil. Jauh sebelum Musk, Christopher Basha yang merupakan seorang dealer mobil asal negara bagian Georgia telah menawarkan penggunaan bitcoin untuk membayar mobil sejak tahun 2015.

Basha mempelajari mata uang kripto dari teman sekamarnya yang merupakan seorang penambang atau miner bitcoin.

"Seseorang bisa membeli pizza dengan bitcoin. Membeli mobil dengan bitcoin sepertinya bukanlah hal yang gila," kata Bash dilansir Reuters, Rabu (10/2/2021).

Sayangnya, tak ada pelanggannya yang tertarik membayar mobil dengan bitcoin. "Saya hampir melupakannya," tutur dia.

Namun, pada tahun 2017 di mana harga bitcoin melonjak, seorang pelanggannya membeli 4 unit mobil KIA dengan total lebih dari US$ 150.000 atau lebih dari Rp 2 miliar (kurs Rp 14.000) dengan menggunakan bitcoin.

Basha mengatakan, pembelian mobil menggunakan bitcoin telah meningkat sejak akhir 2020 karena harganya sedang naik. Basha adalah salah satu dari sekelompok kecil dealer mobil yang telah menerima bitcoin dan mata uang kripto lainnya jauh sebelum Tesla Inc.

Menurutnya, penerimaan mata uang kripto untuk transaksi mobil adalah teknik pemasaran yang baik. Namun, transaksi menggunakan mata uang kripto masih dalam ranah transaksi khusus. Pasalnya masih ada faktor volatilitas harga mata uang kripto dan tidak adanya bank terpercaya serta perantara keuangan lainnya, sehingga membuat pembayaran bitcoin menjadi risiko bagi dealer yang tidak paham teknologi.

Untuk menghindari risiko, dirinya langsung mencairkan bitcoin menjadi uang tunai setelah menerima pembayaran dari pembeli. Akan tetapi, dibutuhkan beberapa menit untuk mengubah bitcoin menjadi dolar AS pada platform pembayaran. Perbedaan menit itu ternyata menyebabkan kerugian rata-rata US$ 300-400 atau sekitar Rp 4-5,5 juta pada setiap transaksi karena fluktuasi harga yang sangat tinggi.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Tonton juga Video: Membaca Dampak yang Timbul Usai Elon Musk Investasi ke Bitcoin

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2