Harga Bitcoin Lagi Gila-gilaan, Tanda Ekonomi AS Merosot

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 15 Feb 2021 10:16 WIB
SALT LAKE CITY, UT - APRIL 26: A pile of Bitcoins are shown here after Software engineer Mike Caldwell minted them in his shop on April 26, 2013 in Sandy, Utah. Bitcoin is an experimental digital currency used over the Internet that is gaining in popularity worldwide. (Photo by George Frey/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

Seperti bitcoin, emas bermerek Weimar sempat menjadi primadona pada 100 tahun yang lalu. Harganya terus melambung tinggi namun kembali merosot tajam. Orang-orang yang memiliki emas tersebut kehilangan uang dalam waktu cepat karena penurunan harga yang signifikan.

Dikutip dari Financial Times kondisi ini mengingatkan dengan bitcoin yang sekarang harganya naik gila-gilaan. Dalam buletin Tree Rings analis Luke Gormen melihat ada pola kemiripan dalam volatilitas harga Weimar Jerman dan bitcoin. Populernya cryptocurrency seperti bitcoin ini dibaca sebagai tanda spekulatif oleh Federal Reserve AS.

Memang selama empat tahun terakhir kepemimpinan Donald Trump sangat mengganggu iklim politik dan mengganggu kepercayaan dunia pada Amerika Serikat (AS). Pamor Dolar AS sebagai mata uang yang paling kuat di dunia juga mengalami penurunan kepercayaan di pasar.

Puncaknya terjadi saat Capitol AS yang membuat dolar AS menjadi korban. Hal ini merupakan masalah yang serius untuk AS dalam beberapa waktu terakhir.

Naiknya harga bitcoin mencerminkan jika kepercayaan di pasar mulai berkurang. Kemudian pemerintah AS juga mencatatkan peningkatan beban utang. Memang ada sejumlah cara untuk keluar dari jeratan utang tersebut yakni pertumbuhan, penghematan atau pencetakan uang. Jika pemerintah AS menjual banyak utang maka nilai dolar AS mulai kehilangan nilai. Karena itu bitcoin dianggap sebagai aset alternatif.

Para pesohor yang mendukung crypto currency seperti Elon Musk, Mark Zuckerberg, Jack Dorsey percaya jika mata uang digital lebih cocok untuk saat ini. Walaupun mata uang tersebut tidak diatur dan tidak tunduk pada kekuatan politik.

Minggu lalu, Tesla menyatakan akan segera menerima transaksi dengan mata uang digital. Kemudian, Tesla juga menyatakan akan memegang sebagian dari keuangannya dalam bentuk bitcoin.

Pada hari Rabu, Mastercard mengumumkan akan mendukung mata uang kripto tertentu langsung di jaringannya pada akhir tahun ini. Itu menjadi salah satu tonggak bitcoin.

Square dan PayPal baru-baru ini mulai memungkinkan pelanggan untuk berdagang bitcoin, tetapi Mastercard akan menjadi platform utama bitcoin. Sebelumnya dikutip dari CNN, bitcoin sempat mencapai rekor tertinggi yakni US$ 50.000 atau sekitar Rp 700 juta dengan asumsi kurs Rp 14.000.

(kil/fdl)