Harga Bitcoin terus merosot ke bawah level US$ 64.000 seiring intensitas aksi jual karena keraguan investor tentang kripto meningkat. Bitcoin telah turun hampir 30% selama setahun terakhir.
Pada satu titik Bitcoin merosot ke level US$ 62.303 atau terendah sejak November 2024. Terakhir Bitcoin diperdagangkan pada level US$ 63.010.
"Penjualan yang stabil ini menurut pandangan kami menandakan bahwa investor kehilangan minat dan pesimisme secara keseluruhan tentang kripto semakin meningkat," kata analis Deutsche Bank, Marion Laboure dalam catatan dikutip dari CNBC, Jumat (6/2/2026).
Mata uang kripto tersebut sempat turun di bawah US$ 70.000 pada sesi perdagangan Kamis (5/2) hingga memicu peningkatan penjualan. Penurunan Bitcoin sampai 20% hanya dalam minggu ini.
Investor mulai goyah karena banyak klaim sensasional tentang Bitcoin yang gagal terwujud. Token ini sebagian besar diperdagangkan searah dengan aset berisiko lainnya seperti saham, terutama selama gejolak geopolitik dan makroekonomi baru-baru ini di Venezuela, Timur Tengah dan Eropa, serta adopsinya sebagai bentuk pembayaran barang dan jasa sangat minim.
Padahal banyak investor memilih aset digital termasuk Bitcoin karena menilai token yang diunggulkan tidak hanya sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian makroekonomi, tetapi juga sebagai alternatif untuk mata uang fiat dan tempat aman tradisional seperti emas. Hal itu dirasa belum terwujud sejak Bitcoin mencapai puncaknya sedikit di atas US$ 126.000 pada awal Oktober 2025.
Mata uang kripto lainnya juga turun tajam. Ether turun 23% minggu ini, menuju minggu terburuknya sejak November 2022 ketika anjlok 24%. Solana mencapai level US$ 88,42, terendah dalam dua tahun dan turun 24% dalam seminggu.
"US$ 70.000 adalah level kunci yang perlu diperhatikan. Jika kita gagal mempertahankannya, pergerakan menuju" kisaran US$ 60.000 hingga US$ 65.000 menjadi sangat mungkin," ujar Kepala Penelitian di Coinshares, James Butterfill.
(aid/ara)