Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 18 Sep 2018 21:38 WIB

Dolar AS Tinggi, Pengusaha Tekstil Keluhkan Harga Bahan Baku

Wisma Putra - detikFinance
Foto: Wisma Putra Foto: Wisma Putra
Bandung - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berkunjung ke pusat tekstil Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dalam kunjungannya, Airlangga menemui sejumlah pengusaha tekstil yang berada di Kabupaten Bandung.

Kepada Airlangga, para pengusaha tekstil itu mengeluhkan harga bahan baku benang naik. Salah satu pengusaha tekstil Majalaya, Aep mengatakan kenaikan bahan baku itu terjadi dikarenakan tingginya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

"Bahan baku naik, dari Rp 21 ribu sekarang udah Rp 35 ribu, naiknya drastis. Karena dolar AS (tinggi)" kata Aep di Kantor Disperindag UPTD Industri Pangan, Olahan dan Kemasan, Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, Selasa (18/9/2018).

Aep menuturkan, harga bahan baku tersebut terus naik. Menurutnya bila harga bahan baku mencapai Rp 40 ribu, para pengusaha kelabakan dan dikhawatirkan 'merumahkan' para karyawannya.

"Sementara ini kita masih punya stok bahan baku sampai September. Kalau misalkan nanti terus naik kita tidak akan mampu. Keputusan terakhir pabrik tutup, karyawan dirumahkan," ujarnya.

Ia berujar, Majalaya memiliki lebih dari 300 pengusaha tekstil. Mereka terancam merumahkan karyawannya.


"Cenderung akan mengalami kesulitan terhadap bahan baku karena menjual hasil produksi tidak sesuai bahan baku. Bahan baku tinggi, penjualan di bawah lama-lama kan dirugikan," ungkapnya.

Airlangga pun mengakui bahwa hampir seluruh bahan baku tekstil impor naik karena tingginya dolar AS.

"Tentunya hampir seluruh bahan baku yang berbasis impor dengan ada pelemahan rupiah sudah pasti naik," katanya.

Menurutnya, cara untuk memitigasi kenaikan konsumen harus meningkatkan produktifitas. Sementara untuk harga bahan baku mengikuti harga internasional.

"Pada saat kenaikan mau tidak mau harga naik, kapas kan impor, kalau polyster ada juga yang di produksi dalam negeri, rayon itu menjadi alternatif juga yang akan diproduksi ditingkat nasional," paparnya.

Sementara untuk upaya meningkatkan produktifitas itu, harus dilakukan efisiensi dari mesin.

"Infakstuktur permesinannya harus dilakukan oleh industri," pungkasnya. (fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed