Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 09 Apr 2019 17:56 WIB

Ditunggu di Debat! Jurus Capres Genjot Industri Manufaktur

Trio Hamdani - detikFinance
Ilsutrasi/Foto: Rachman Haryanto Ilsutrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Salah satu pekerjaan rumah para capres jika terpilih nanti adalah mendongkrak industri manufaktur. Saat ini menurut catatan Center of Reform on Economics (Core) Indonesia industri manufaktur di Indonesia masih tumbuh di bawah 5%.

Padahal sebenarnya industri manufaktur bisa memacu ekonomi suatu negara tumbuh double digit. Contohnya China dan Korea Selatan.

"Sementara kita sudah lebih dari 10 tahun (industri manufaktur) kita tumbuhnya di bawah pertumbuhan ekonomi nasional, dan sekarang hanya 4,27% pertumbuhannya. Ini harus jadi agenda ke depan," ujar Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal dalam diskusi Review Ekonomi Triwulan I 2019 dan Jelang Debat Capres ke 5 di Hong Kong Cafe, Jakarta, Selasa (9/4/2019).


Oleh sebab itu debat capres kelima Sabtu (13/4) nanti perlu membahas juga peningkatan industri manufaktur.

"Jadi debat capres nanti mestinya harus meng-address industri manufaktur sebagai bagian dari agenda yang penting dalam 5 tahun ke depan," kata Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal dalam diskusi Review Ekonomi Triwulan I 2019 dan Jelang Debat Capres ke 5 di Hong Kong Cafe, Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Mengapa industri manufaktur perlu diperhatikan?, salah satunya karena harga komoditas ekspor proyeksinya akan cenderung menurun untuk ke depan. Maka itu perlu ada strategi merevitalisasi industri manufaktur.

Contoh saja industri manufaktur, di mana Indonesia merupakan eksportir terbesar kayu tapi loyo dalam hal ekspor produk turunannya yaitu furniture. Ini dikarenakan lemahnya industri hilir untuk memberikan nilai tambah.


"Kita bukan eksportir terbesar industri furniture kayu. Siapa yang unggul? ada China, Eropa. Kita ranking-nya malah turun 2001 kita eksportir nomor 12, tahun 2017 turun jadi 17. Tapi kita tetap eksportir kayu terbesar. Ke mana ekspornya? ke China," ujarnya.

Contoh berikutnya adalah industri manufaktur di sektor telepon seluler. Dari segi impor produk jadinya memang terlihat penurunan. Artinya produksi sudah lebih banyak dilakukan di dalam negeri. Tapi masalahnya suku cadang telepon seluler masih banyak diimpor dari luar negeri.

"Impor telepon seluler turun tajam. Tapi di sisi lain impor untuk parts atau komponen, komponennya impor alami peningkatan. Karena TKDN itu belum jalan baik, karena industri tumbuhnya belum siap untuk support industri hilir yang masuk ke dalam negeri. Jadi ini PR ke depan untuk bangun industri hulu," tambahnya.


Simak Juga 'Jokowi: Infrastruktur Dibangun, Pertumbuhan Ekonomi Mengikuti':

[Gambas:Video 20detik]


Ditunggu di Debat! Jurus Capres Genjot Industri Manufaktur
(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com