Tekan Impor Produk Kimia, Kemenperin Dukung Proyek Revamping TPPI

Reyhan Diandri Ghivarianto - detikFinance
Senin, 28 Sep 2020 22:09 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: Trio Hamdani
Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendukung penuh proyek revamping PT. Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur. Pasalnya, proyek pembenahan ini guna meningkatkan kapasitas produksi sekaligus dapat menjadikan substitusi impor.

"Kami menyambut baik kemajuan proyek revamping ini, mengingat produk-produk petrokimia khususnya produk aromatik ini sangat dibutuhkan di dalam negeri oleh berbagai perusahaan di Indonesia," ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam keterangan tertulis, Senin (28/9/2020).

Menurut Agus, peran TPPI bakal mampu mengurangi secara signifikan terhadap impor bahan baku kimia dan defisit transaksi berjalan Indonesia. "Tentunya ini akan bisa membangkitkan perekonomian nasional," imbuhnya.

Agus mengatakan Kemenperin akan memperkuat struktur industri kimia di Indonesia agar lebih berdaya saing di kancah global. Hal ini sesuai dengan program prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0 yang memasukkan industri kimia sebagai satu dari lima sektor yang diprioritaskan pengembangannya.

"Industri petrokimia merupakan sektor hulu yang sangat strategis karena menunjang berbagai kebutuhan produksi di sejumlah manufaktur di sektor hilir," ungkapnya.

Produk yang dihasilkan oleh industri petrokimia, antara lain digunakan sebagai bahan baku di industri plastik, tekstil, cat, kosmetik, dan farmasi.

Beberapa waktu lalu, Agus didampingi Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono serta Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam menerima kunjungan Direksi dan Komisaris TPPI. Pertemuan ini menindaklanjuti peninjauan langsung Presiden Joko Widodo ke TPPI pada akhir Desember 2019.

Pada kesempatan itu, Presiden Komisaris TPPI Ardhy N. Mokobombang menyampaikan saat ini di TPPI terdapat proyek revamping platforming dan aromatik yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas platforming unit dari 50.000 barel per hari menjadi 55.000 barel per hari dan kapasitas produksi paraxylene 600.000 ton per tahun menjadi 780.000 ton per tahun dengan biaya pembangunan sebesar USD180 juta.

Presiden Direktur TPPI Yulian Dekri menambahkan pekerjaan Basic Engineering Design Package (BEDP) yang sedang dikerjakan oleh UOP sejak Maret 2020, akan ditaregtkan selesai pada akhir September 2020. "Pembangunan lima tangki saat ini sedang dalam tahap pembangunan yang diperkirakan secara keseluruhan tangki-tangki tersebut akan selesai pada pertengahan Desember 2021," ujarnya.

Yulian mengatakan proyek revamping TPPI akan dilaksanakan pada awal 2022 bersamaan dengan pelaksanaan turn around, sehingga pada kuartal I-2022 diharapkan kilang sudah dapat beroperasi secara penuh. "Terkait dengan dukungan TPPI untuk mengurangi produk impor paraxylene, kami sudah mulai mengoperasikan unit produksi paraxylene sejak Agustus 2020 secara dual mode (menghasilan produk petrokimia dan produk BBM) dan akan ditingkatkan secara bertahap," jelas Yulian.

Sementara itu, Direktur Pemasaran TPPI Darius Darwis menyatakan kebutuhan domestik paraxylene saat ini sebesar 1 juta ton per tahun, sedangkan pemasok dari dalam negeri selain TPPI adalah Kilang RU IV Pertamina yang mempunyai kapasitas produksi sekitar 200.000 ton per tahun. Dengan demikian selama TPPI tidak berproduksi, terdapat impor paraxylene sekitar 800.000 ton per tahun.

"Untuk mengurangi impor paraxylene pada tahun 2021, TPPI akan memproduksi sejumlah 280.000 ton per tahun paraxylene selain juga memproduksi pertamax. Bersama dengan produksi paraxylene Pertamina sebesar 220.000 ton per tahun, total produksi paraxylene dalam negeri menjadi 500.000 ton per tahun, atau dapat mengurangi impor sejumlah 50% dari kebutuhan dalam negeri dan menurunkan defisit transaksi berjalan sesuai arahan Presiden Joko Widodo saat mengadakan kunjungan ke TPPI tahun lalu," jelasnya.

Darius berharap pada tahun 2022 dengan selesainya proyek revamping tersebut, TPPI akan dapat meningkatkan produksi paraxylene menjadi 780,000 ton per tahun. Sehingga tambahan produksi tersebut dapat memenuhi seluruh kebutuhan paraxylene dalam negeri bersama-sama dengan Pertamina.



Simak Video "Anak TK Belajar Manasik Haji, Gresik"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)