Industri Manufaktur Mulai Bergairah di Kuartal IV

Yudistira Imandiar - detikFinance
Kamis, 05 Nov 2020 11:08 WIB
Manufaktur
Ilustrasi. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri manufaktur Indonesia mulai menunjukkan perbaikan. Hal itu terlihat dari data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia bulan Oktober yang berada di level 47,8, naik dari indeks bulan September di level 47,2, yang dilansir dari HIS Markit.

"Alhamdulillah, ini berita yang baik. Walaupun terjadi kenaikan tipis, masih menunjukkan kepercayaan yang tinggi dari para pelaku industri. Semoga menjadi semangat bersama untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional," kata Agus dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2020).

Agus menilai peningkatan PMI manufaktur Indonesia pada awal kuartal IV tahun 2020 menjadi sinyal positif terhadap performa ekonomi yang kian bergairah.

"Sektor manufaktur memang cukup terpengaruh oleh penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara penuh di beberapa daerah," imbuh Agus.

Agus mengapresiasi sejumlah pemerintah daerah yang telah melakukan pelonggaran PSBB di wilayahnya. Selain mampu menunjang aktivitas sektor industri, upaya tersebut menandakan bahwa penyebaran virus Corona sudah dapat ditekan.

"Kami bertekad menjaga roda perekonomian terus berputar dengan menjamin keberlangsungan operasi dan mobilitas kegiatan industri, namun dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang ketat. Melalui IOMKI, Kemenperin optimistis, kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi serta mencegah PHK dalam jumlah yang massif," ulas Agus.

Agus menambahkan, upaya menaikkan daya beli masyarakat juga penting untuk meningkatkan kepercayaan diri dari para pelaku industri dalam melakukan ekspansi.

"November dan Desember bisa dijadikan acuan apakah recovery benar-benar terjadi," ulasnya.

Kepala Ekonom IHS Markit Bernard Aw menjelaskan penanganan pandemi COVID-19 dan ketersediaan vaksin menjadi kunci peningkatan permintaan pada bulan-bulan berikutnya. Bernard menyampaikan, responden survei melaporkan terjadi kenaikan biaya dalam produksi, sementara perusahaan tidak memiliki ruang untuk menaikkan harga jual seiring dengan melemahnya daya beli. Kenaikan harga terjadi pada bahan mentah seperti logam dasar, bahan kimia, plastik, dan beberapa bahan pangan, yang mendorong kenaikan biaya produksi.

"Meski demikian, perusahaan mengurangi harga jual mereka, menandai penurunan pertama pada biaya barang jadi sejak Maret 2020," urai Bernard.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengemukakan kunci utama dalam upaya pemulihan ekonomi nasional adalah penanganan COVID-19.

"Memang tidak mudah, tetapi jika diterapkan lagi PSBB karena kasus kembali meningkat, akan lebih mengkhawatirkan," kata dia.

(prf/hns)