Menperin Sebut Produksi Mobil Melonjak 172% di Kuartal III-2020

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 09 Nov 2020 16:14 WIB
Mobil listrik Volkswagen (VW) ID.3 mulai memasuki jalur produksi. Mobil berjenis hatchback ini akan diproduksi di fasilitas perakitan Volkswagen di Zwickau, Jerman.
Foto: Getty Images/Sean Gallup
Jakarta -

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan ada peningkatan produksi mobil pada kuartal III-2020. Peningkatannya mencapai 172%.

"Produksi mobil pada triwulan III-2020 itu mencapai 113.560 unit atau naik sebesar 172% ini quartal to quartal, jadi dari kuartal kedua ke kuartal ketiga itu ada kenaikan 172,78%," ujar Agus dalam konferensi pers KCPEN: Penanganan COVID-19, Pemulihan Ekonomi Nasional dan Ketahanan Pangan, Senin (9/11/2020).

Akan tetapi, bila dibanding tahun sebelumnya, produksi mobil di Indonesia mengalami penurunan cukup dalam sebesar 68,47%.

"Padahal kita tau bahwa industri otomotif ini merupakan industri yang sangat penting karena turunannya mata rantainya itu sangat banyak belum lagi kita bicara partisipasi dari industri kecil dan menengah untuk mendukung industri otomotif," sambungnya.

Industri lainnya yang mulai menggeliat adalah industri semen. Produksi semen sepanjang kuartal III-2020 meningkat hingga 42,09% dibanding kuartal sebelumnya. Namun, bila dibandingkan dengan produksi periode yang sama tahun sebelumnya tentu masih terlihat adanya tren penurunan yang tipis.

"Produksi semen di triwulan III itu sebesar 18,1 juta ton dibandingkan triwulan II itu naik 42,09%. Namun secara rata-rata tahun 2019 dibanding tahun 2020 itu turun sebesar 9%," ungkapnya.

Akan tetapi secara menyeluruh, seluruh industri yang berkembang di Indonesia, diyakini Agus mulai menunjukkan pemulihan dari awal adanya pandemi COVID-19. "Bottom line-nya kita sudah melihat bahwa ada kurva positif dari semua sektor industri mulai dari kuartal III ini," timpalnya.

Agus juga menyampaikan ada peningkatan investasi di sektor industri sepanjang masa pandemi COVID-19 ini. Peningkatannya sampai 37% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

"Nah ini kita bisa lihat bahwa justru pada saat pandemi ini investasi untuk sektor industri periode Januari-September 2020, pada saat masa pandemi itu naik 37% dibandingkan dengan periode tahun lalu, dan di tahun 2020 industri menyerap investasi senilai Rp 201,9 triliun," ungkapnya.

Kenaikan aliran modal masuk tersebut diyakini jadi faktor utama yang dapat memperkecil gelombang PHK di sektor tersebut. "Jadi investasi itu juga merupakan kata kunci kita mencegah PHK dan menciptakan lapangan kerja baru," katanya.

Padahal, saat awal kemunculan pandemi COVID-19, Agus sempat khawatir terkait ancaman gelombang PHK itu. Namun, derasnya investasi yang masuk membuat industri ini tetap aktif berproduksi meski tak dapat dipungkiri ada penurunan dari tahun sebelumnya.

"Jadi sejak awal kita putar otak bagaimana industri itu bisa tetap beroperasi di tengah-tengah ancaman pandemi atau virus yang sangat berat. Maka kita sadar betul bahwa dengan beroperasinya industri atau pabrik-pabrik itu, itu pasti akan mencegah PHK, akan mencegah karyawan yang dirumahkan. Tapi kemudian ada recent surprise di mana salah satu yang kita bisa harapan dari penyerapan tenaga kerja itu investasi bisa masuk," paparnya.

(fdl/fdl)