Kepala BPOM Ungkap Ketatnya Pengawasan Distribusi Vaksin COVID-19

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 29 Jan 2021 17:41 WIB
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization vaksin COVID-19 Sinovac. Begini alasannya.
Kepala BPOM Penny K Lukito/Foto: ANTARA FOTO/HO/Humas BPOM
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak hanya memberikan izin penggunaan darurat vaksin COVID-19. Namun, BPOM juga melakukan pengawasan jaminan dan pendampingan.

Kepala BPOM Penny K Lukito mengatakan pihaknya tidak hanya memberi penjaminan saat vaksin diterima dan mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (UEA). Namun, juga pengawasan distribusi sampai digunakan ke masyarakat.

"BPOM ikut mendampingi terus melakukan pengawasan dimulai dari jalur distribusi saat keluar dari tempat di mana produksinya vaksin Sinovac yang diproduksi di Bio Farma, kemudian melalui PBF Bio Farma di produsennya, kemudian melalui jalur instalasi farmasi di provinsi dikirimkan PBF dari Bio Farma. Nanti ke instalasi ke provinsi dan di distribusi instalasi farmasi kota dan kabupaten sampai fasilitas pelayanan kesehatan di mana vaksinasi diberikan ke masyarakat," paparnya dalam teleconference, Jumat (29/1/2021).

Dia mengatakan, BPOM akan mengawal setiap rantai dingin distribusi vaksin COVID-19. UPT atau Balai POM yang berada di seluruh wilayah Indonesia juga telah mengawal distribusi vaksin dengan memberikan penilaian (assessment) kesiapan distribusi ini sesuai dengan standar yang berlaku terkait distribusi obat yang baik.

"Tentunya ada ketentuan SDM yang harus dipenuhi, fasilitas dan bangunan yang memenuhi standar temperatur 2-8 derajat celcius. Kesiapan instrumen-instrumen atau backup energi karena peralatan penyimpanan yang membutuhkan energi untuk menjamin temperatur tentunya membutuhkan misalnya backup genset sudah kita lakukan penilaian di seluruh, banyak di seluruh instalasi provinsi, kabupaten dilakukan Balai POM seluruh Indonesia," ujarnya.

Dari situ, pihaknya akan memberikan masukan dan diharapkan dilakukan perbaikan. Pihaknya sendiri baru saja mengambil sampel di Provinsi Jawa Barat.

"Dari situ kita akan memberikan masukan dan diharapkan perbaikan. Ini salah satu contoh sampling-nya kami melakukan di Provinsi Jawa Barat tadi mencoba cek ke Kabupaten Bandung di Soreang dan kita melihat juga salah satu puskesmasnya," katanya.

"Alhamdulillah saya melihat koreksi-koreksi yang sudah diberikan sebelumnya terhadap instalasi farmasi terkait tadi kesediaan genset, adanya alat tes cek indikator temperatur sudah ada perbaikan," paparnya.

(acd/ara)