Bos Bio Farma Ungkap Pentingnya Pengawasan Distribusi Vaksin

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 29 Jan 2021 19:20 WIB
Biofarma mendistribusikan vaksin COVID-19 Sinovac ke berbagai wilayah Indonesia. Proses pendistribusian vaksin itu mendapat pengawalan ketat dari TNI-polisi.
Foto: Yudha Maulana/Detikcom
Jakarta -

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Honesti Basyir mengungkapkan, vaksin COVID-19 perlu diawasi secara ketat. Pengawasan ketat itu tidak hanya dalam hal produksi namun juga pada distribusi.

Hal ini untuk memastikan agar vaksin ini tetap berkhasiat seperti yang diharapkan masyarakat.

"Jadi memang saya pikir apa yang kami lakukan dari sisi produsen ini kan end to end mulai dari mendatangkan bahan baku, memproduksi, didistribusikan karena ini vaksin khusus pandemi memang pendampingannya juga dari BPOM sangat teliti kita terima kasih BPOM banyak hal terobosan dilakukan," aktanya dalam teleconference, Jumat (29/1/2021).

"Perlu memastikan proses produksi karena vaksinnya pertama kali untuk COVID ini sehingga standar mutu itu juga harus pasti diawasi dengan ketat," tambahnya.

Dari sisi distribusi pun juga harus diawasi dengan ketat. Maka itu, dia menuturkan, pihaknya membutuhkan teknologi agar vaksin yang didistribusikan memenuhi standar.

"Selain itu pada saat ia didistribusikan ini juga harus sesuai standar cara distribusi obat yang baik. Makanya Bio Farma dan grup kami Indo Farma dan Kimia Farma kita juga membutuhkan dukungan teknologi untuk memastikan bahwa semua vaksin yang diproduksi dan juga dikirim ke titik serahnya, apakah itu di provinsi atau nanti akan diubah langsung fasilitas kesehatan terakhir ini benar-benar memenuhi standar yang ada, yang sudah ditetapkan BPOM," tambahnya.

Menurutnya, standar produksi dan distribusi harus dijaga. Pihaknya tak mau karena masalah distribusi membuat vaksin itu tidak sesuai yang diharapkan masyarakat.

"Ini yang perlu kita jaga terus konsitensinya karena kita nggak mau vaksin yang sudah bagus secara uji klinis bagus, diproduksi dengan standar cara pembuatan obat baik dan benar, tapi karena distribusinya menjadi tidak bermutu, tidak berkhasiat seperti apa yang diharapkan masyarakat," ujarnya.

(acd/zlf)