Pengusaha Tekstil Menjerit: Bahan Baku Naik hingga Ada yang Gulung Tikar

Wisma Putra - detikFinance
Kamis, 11 Mar 2021 19:45 WIB
Pengusaha Tekstil dan Sarung Majalaya Menjerit
Foto: Wisma Putra/detikcom
Bandung -

Para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) tekstil dan sarung Majalaya, Kabupaten Bandung menjerit di kala pandemi COVID-19.

Ketua Pertekstilan Kabupaten Bandung sekaligus pemilik perusahaan sarung CV Setia Tunggal Textile Aep Hendar mengatakan, usahanya terpukul sejak ada COVID-19.

"Muncul COVID-19, nah sangat terpukul kita sebagai pengusaha tekstil Majalaya. Dari pertama COVID-19 sampai sekarang terombang-ambing, ada yang gulung tikar, ada yang tiga hari kerja (dibagi-bagi)," kata Aep ditemui detikcom di tempat usahanya di Jalan Sukamanah, Kecamatan Paseh, Kamis (11/3/2021).

Selain itu, harga bahan baku benang menurut Aep tak terkendali. "Apalagi sekarang, pada Bulan Januari 2021 bahan baku tidak terkendala naiknya sampai 30%," ujarnya.

Aep mengungkapkan, kenaikan harga bahan baku tersebut, tidak sejalan dengan harga jual di pasaran.

"Contoh, polyester dari Rp 21 ribu (kilogram) sekarang sudah mencapai Rp 29 ribu, kalau kita produksi beli barang tersebut mana keuntungan kita karena si pembeli pasar tidak bisa menyerap dengan dalih apapun, kalau kita produksi tidak bisa berhenti," ungkapnya.

Aep mempertanyakan kehadiran pemerintah yang tidak memperhatikan para pengusaha tekstil khusunya di Majalaya dan umumnya di Kabupaten Bandung. Pihaknya juga mempertanyakan soal bantuan untuk para pelaku IKM.

Menurutnya, ada kemitraan yang digulirkan oleh Kementerian Perindustrian tapi, dengan istilah KUR untuk pinjaman pembelian mesin, namun KUR itu tetap harus ada jaminan, tidak bisa kita jaminkan sebagai istilahnya mesin yang akan dibeli.

"Kalau ingin pemerintah itu ada sinergi antara Kementerian Perindustrian dengan Kementerian BUMN, tolong kita bantu istilahnya, dengan gulirkanlah KUR dengan jaminan-jaminan mesin yang kita beli, kan kita sudah bekerja sama dengan Ketua API di mana mereka membuat bapak angkat istilahnya kita sebagai anak angkat, di situ akan memproduksi kain yang prioritaskan atau sangat diperlukan oleh masyarakat, karena sekarang barang-barang tersebut impor, kalau toh kita ada kerja sama digulirkan KUR misalkan satu orang Rp 1 miliar kita bisa beli mesin itu bisa memproduksi 25 juta meter per bulan, nah di situ impor akan terhambat dengan produksi itu dan di situ akan bersaing harga, harga kita bisa lebih murah," jelasnya.

Aep juga mengeluhkan, sarung yang diproduksinya masih menumpuk di gudang. Sedangkan di kala pandemi COVID-19 seperti saat ini bukan sarung yang dibutuhkan masyarakat.

"Mungkin ada sekitar 10 ribu kodi, kemudian kain yang putihan ada yang udah tidak kompatibel di pasaran, kalau kita naikkan dia tidak beli, kalau kita simpan kita ada cost, listrik, karyawan, bank, sudah-sudah kita repot sekarang," tentangnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.