90% Produk Kerajinan UMKM Ini Bisa Ekspor, Ternyata Ini Tipsnya

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 16 Jun 2021 20:30 WIB
Bisnis online
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Pandemi COVID-19 menjadi penghambat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam mengembangkan bisnisnya. Hal itu pun diakui oleh Pelaku UMKM Owner Palem Craft, Deddy Effendy.

Sebagai informasi, Palem Craft ini merupakan bisnis yang menghasilkan produk handicraft atau kerajinan berupa lampu dan cermin.

"Yang pasti kita tidak bisa dipungkiri COVID-19 selama 1,5 tahun ini ada satu permasalah masing-masing UMKM dengan masalah yang berbeda-beda," katanya dalam dialog bertajuk 'Kreativitas UMKM Bertahan di Masa Pandemi' secara virtual, Rabu (16/6/2021).

Meski mengalami kesulitan, Deddy mengaku selama pandemi COVID-19, bisnis UMKM di bidang handicraftnya yang digelutinya mendapatkan manfaat dari orang-orang yang bekerja dari rumah atau WFH. Bahkan dia mengaku 90% produknya kini sudah ekspor ke luar negeri.

"Pandemi ini jadi berkah buat bisnis saya saat orang-orang WFH, ini menjadi sebuah peluang. Saat orang WFH mereka mengamati sekitar rumah mereka, hingga akhirnya mereka tahu butuh cermin dan lampu. Selain itu market kami pun kini 90% ekspor," tuturnya.

Deddy bercerita saat pandemi melanda dia membuat strategi baru agar bisnisnya tetap berkembang, salah satunya memanfaatkan teknologi digital, yakni dari media sosial.

Sebelum pandemi, strategi promosi produknya dari sebuah pameran. Namun, karena pandemi hal itu tidak bisa dilakukan, tentu itu menjadi masalah bagi bisnis Deddy.

"Handicraft ini kan berbeda dengan produk kuliner atau fesyen. Handicraft ini harus bisa disentuh diceritakan. Biasanya itu dilakukan dalam sebuah pameran. Karena dengan pameran bisa menunjukan hasil kualitas akhirnya," tuturnya.

Namun, melalui media sosial, Deddy memperkuat bisnis dengan menegaskan identitas bisnisnya, membuat keunikan hingga kekhasan agar berbeda dengan produk lainnya. Selain itu, dia juga membuat Standard Operating Procedure (SOP) terbaru dengan melibatkan petani hingga pengrajin.

"Kami melakukan inovasi karena keterbatasan sekarang. Kalau nggak orang akan skip kita terus. Seperti di Instagram orang kalau nggak tertarik akan skip terus," ungkapnya.

(dna/dna)