Gebrakan RI Kuatkan Industri Baja, Siap Lawan Gempuran Impor?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 22 Sep 2021 21:00 WIB
Krakatau Steel
Foto: Dok. Krakatau Steel
Jakarta -

Industri baja nasional baru saja mendapatkan pasokan tenaga tambahan. PT Krakatau Steel selaku pabrikan baja pelat merah baru saja meresmikan operasi pabrik Hot Strip Mill 2 di Cilegon, Banten.

Pabrik baja ini diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pabrik yang memproduksi baja canai panas atau hot rolled coil (HRC) ini menjadi gebrakan baru industri baja nasional karena menggunakan teknologi 4.0 terbaru.

Jokowi mengatakan pabrik baja dengan teknologi ini hanya ada dua di dunia, yakni di Indonesia dan Amerika Serikat (AS).

"Hanya ada dua di dunia, pertama di Amerika Serikat dan yang kedua di Indonesia yaitu di Krakatau Steel. Tadi saya sudah melihat ke dalam proses produksinya betul-betul memang teknologi tinggi," tutur Jokowi dilansir dari akun Youtube Sekretariat Presiden, Senin (21/9/2021).

Menurut Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim gebrakan pabrik baja ini nampaknya dapat membuat Indonesia terlepas dari ketergantungan baja impor.

Dia menjabarkan khusus untuk produk hot rolled coil (HRC), kapasitas produksi dalam negeri sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan. Dia menjabarkan kebutuhan baja dalam negeri yang biasa diimpor mencapai 3,5-4,5 juta ton.

"Kalau kita khususkan bicara ke hot rolled coil, kebutuhan yang sering diimpor itu sampai 4,5 juta ton dalam situasi normal, dalam kondisi COVID itu 3,5 juta ton," ungkap Silmy dalam acara Market Review IDX Channel, Rabu (22/9/2021).

Sementara itu, kapasitas produksi Krakatau Steel baru saja bertambah 1,5 juta ton dengan beroperasinya pabrik baja Hot Strip Mill 2 yang baru saja diresmikan. Ditambah lagi selama ini Krakatau Steel mampu memproduksi 2,4 juta ton baja. Totalnya, ada 3,9 juta produksi baja dari Krakatau Steel.

Itu baru Krakatau Steel, produksi baja HRC dari produsen lain bisa mencapai kisaran 1 juta ton. Maka kapasitas produksi nasional bisa mencapai 4,9 juta ton. Dengan data tersebut, dia mengatakan seharusnya impor baja tak lagi diperlukan.

"Kalau kebutuhan yang hanya 3,5-4,5 juta ton, dan produksi 4,9 juta ton sudah dipenuhi, seharusnya nggak dibutuhkan," kata Silmy.

Berlanjut ke halaman berikutnya.