Pembelaan Kemenkes soal Banjir Impor Alat Kesehatan

Aldiansyah Nurrahman - detikFinance
Jumat, 08 Apr 2022 19:00 WIB
Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran itu siap digunakan untuk menangani 3.000 pasien. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Pool/aww.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Jakarta -

Realisasi alat kesehatan (alkes) buatan Indonesia masih sangat rendah. Hal itu juga yang disoroti Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi belum lama ini meluapkan kejengkelannya terkait banyaknya alkes yang masih diimpor.

Menanggapi hal itu, Staf Khusus Menteri Kesehatan bidang Ketahanan Industri Obat dan Alkes, Laksono Trisnantoro mengungkapkan penyebab maraknya impor alkes. Ia menyampaikan salah satu penyebabnya ada persepsi di kalangan dokter dan rumah sakit, produk alkes luar negeri lebih baik dari produk dalam negeri.

"Ini dokter banyak yang berpendapat bahwa alat dalam negeri itu tidak bermutu atau kurang baik dibanding dengan milik Jerman atau Jepang. Bahkan dulu China pun dianggap jelek, tapi sekarang dianggap baik," jelasnya, saat acara virtual Mengapa Alat Kesehatan Indonesia Belum Mandiri Juga?, Jumat (8/4/2022).

Laksono mengatakan persepsi akan merek di kalangan dokter itu sangat penting untuk alkes. Terlebih, jarang ada kampanye bangga bangga membeli buatan alat sendiri di kalangan dokter.

"Karena yang pakai alkes itu dokter, lho, bukan pembeli langsung. Saya sebagai pasien tidak akan minta 'ini plat besi saya untuk ortopedi pakai buatan Indonesia', tidak. Itu adalah buatan Jerman ada buatan Pakistan, pasien tidak tahu. Yang tahu siapa? Dokternya," tutur dia.

Selain persepsi dokter, Laksono menyampaikan penyebab impor alkes itu karena e-katalog tidak efektif. Kemudian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk alkes masih bermasalah atau belum jadi.

"TKDN untuk alkes itu masih menggunakan yang Kemenperin 2011 pembuatannya," katanya.

Ia membenarkan apa yang disampaikan Jokowi soal impor ini. "Tapi kenyataannya memang situasinya masih dari segi e-katalog, TKDN belum beres dan juga kultur dalam rumah sakit itu masih senang (produk) luar negeri," pungkas dia.

Sementara itu, Direktur Industri Kecil dan Menengah Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut, Kementerian Perindustrian Dini Hanggandari mengungkapkan penyebab dilakukan impornya alkes karena sulitnya mencari bahan baku untuk membuat alkes di dalam negeri. Salah satu bahan baku itu adalah stainless steel 316l.

Indonesia memang terhitung sebagai pengekspor stainless steel terbesar di dunia, tapi stainless steel jenis tertentu tidak serta merta ditemukan.

"Kita memang ada industri yang pengekspor stainless steel terbesar di dunia, yaitu di Morowali," katanya.

Dini mencoba mencari stainless steel jenis yang dibutuhkan itu di Morowali, namun tidak mendapatkannya,

"Kami mencoba mencari untuk stainless steel jenis produk tertentu. Walaupun terbesar ada di Morowali ternyata stainless steel jenis yang diperlukan tidak diproduksi di Morowali, karena Morowali itu jenis stainless steel-nya tinggi bagus, tapi diekspor," kata Dini lagi.

Ia menegaskan mencari bahan baku yang sesuai kualifikasi tidak mudah. Makanya impor masih terus dilakukan. Bahkan bisa dikatakan ketergantungan.

Maka dari itu, ia berharap tidak terjadi faktor yang membuat impor itu berhenti. Walaupun saat ini bisa dikatakan ada ancaman dari luar yang mempengaruhi impor, seperti perang Rusia dan Ukraina

(eds/eds)