Efek Berantai Ekspor CPO Seret: Tangki Penuh dan Harga Sawit Petani Jeblok

ADVERTISEMENT

Efek Berantai Ekspor CPO Seret: Tangki Penuh dan Harga Sawit Petani Jeblok

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 11 Jul 2022 07:15 WIB
Workers load palm oil fresh fruit bunches to be transported from the collector site to CPO factories in Pekanbaru, Riau province, Indonesia, April 27, 2022. REUTERS/Willy Kurniawan
Efek Berantai Ekspor CPO Seret: Tangki Penuh Harga Sawit Petani Jeblok/Foto: REUTERS/WILLY KURNIAWAN
Jakarta -

Kondisi ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) masih seret. Hal ini menyebabkan tangki penyimpanan CPO di berbagai wilayah, khususnya di Sumatera dan Kalimantan penuh.

Di sisi lain, pemerintah sudah berupaya membuka kembali ekspor CPO dan produk turunannya sebagai salah satu upaya untuk menaikkan harga beli tandan buah segar (TBS) sawit petani yang masih rendah. Meski demikian, hingga saat ini belum ada kemajuan yang berarti.

Juru bicara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Timur Azmal Ridwan mengatakan, penyebab dari tangki yang penuh itu adalah pabrik kelapa sawit (PKS) kesulitan menjual CPO karena ekspor yang masih tersendat.

"Tiga hari sampai lima hari lagi kalau dibiarkan (tangki penyimpanan CPO) penuh. Itu masalah kita sekarang," kata Azmal dalam keterangannya, Jumat (8/7/2022).

Di sisi lain, kondisi ini menimbulkan dilema bagi para perusahaan CPO. Pasalnya, kalau produksi dilakukan normal seperti biasanya, tangki akan cepat penuh, dan jika sudah penuh, otomatis produksi dihentikan.

"Karyawan tidak bekerja, tapi tetap kita gaji. Karena bukan dia yang tidak bekerja, tapi kerjaannya yang kita setop," katanya.

Oleh sebab itu, sembari menunggu CPO terjual, Azmal mengatakan pihak perusahaan sawit terpaksa mengurangi produksi CPO. Caranya, dengan mengatur jadwal panen TBS yang normalnya 7-8 hari sekali menjadi 12 hari.

"Periode panen biasanya 8 hari, sekarang terpaksa 12 hari. Kalau kita genjot seperti biasa, begitu jadi CPO, tangkinya gak muat," kata Azmal.

Namun demikian, cara ini menimbulkan masalah baru yang berdampak pada kualitas TBS. Di mana, tingkat keasaman menjadi salah satu syarat kualitas CPO.

"Kalau 7-8 hari itu TBS masaknya normal. Tapi Kalau 12 hari, masaknya lebih. Bukan busuk sih, tapi masaknya lebih dan ini berpengaruh pada tingkat keasaman CPO yang meningkat," ujar Azmal.

"Kalau tingkat keasaman CPO-nya tinggi, maka harga CPO-nya anjlok. Jadi pengaruhnya besar terhadap harga," tambahnya.

Simak video 'Polri-Kejagung Bakal Awasi Ekspor Minyak Goreng Hingga Sawit':

[Gambas:Video 20detik]



Berlanjut ke halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT