ADVERTISEMENT

3 Sebab Laba HM Sampoerna Jeblok 11,7%

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Selasa, 01 Nov 2022 20:30 WIB
Rokok Sampoerna mild.  dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: dikhy sasra
Jakarta -

PT HM Sampoerna Tbk membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 83,4 triliun, naik 15% dari tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan kinerja positif perusahaan selama 9 bulan sejak awal 2022.

Di sisi lain, kondisi ini berkebalikan dengan perolehan laba bersihnya. Dibandingkan 2021, laba bersih HM Sampoerna turun 11,7%, dengan perolehan sebesar Rp 4,9 triliun. Secara signifikan, angka-angka tersebut masih lebih rendah dari periode pra pandemi.

Informasi ini dipaparkan langsung oleh President Director HM Sampoerna Vassilis Gkatzelis dalam Public Expose PT HM Sampoerna Tbk, melalui saluran teleconference, Selasa (01/11/2022).

"Sejak 2020 profitabilitas kami sangat terdampak oleh kenaikan cukai dua digit dan melebarnya kesenjangan cukai. Ditambah lagi, dengan adanya penurunan daya beli yang mengakibatkan signifikan down trading pada konsumen," kata Gkatzelis.

Gkatzelis menyebut, ada tiga faktor utama yang mempengaruhi profitabilitas di industri hasil tembakau (IHT), antara lain yang pertama yaitu tarif cukai yang besarannya dua angka, jauh di atas inflasi. Kemudian yang kedua ialah melebarnya jarak tarif cukai antara golongan 1 dengan golongan 2 dan 3. Dan yang terakhir kemampuan atau daya beli konsumen.

Menurutnya, peningkatan jarak pajak cukai sedikit banyak memberikan pengaruh pada pendapatannya, termasuk juga memberi sumbangsih bagi inflasi RI. Di mana, jarak cukai golongan 1 40% lebih tinggi dari golongan 2.

Pangsa pasar dan volume penjualan produk golongan 1 pun mengalami penurunan signifikan sejak tahun 2019. Kondisi ini berbanding terbalik dengan meningkatnya pangsa pasar untuk golongan 2 dan 3, dari 20% di tahun 2019 menjadi 36% pada kuartal III 2022.

"Hal ini secara tidak proporsional berdampak pada produsen volume golongan 1 dan memicu adanya down trading. Kami berharap kebijakan fiskal mendukung jarak cukai yang berkelanjutan serta memenuhi pemulihan ekonomi, kesehatan masyarakat, ketenagakerjaan, serta target penerimaan negara," katanya.

Kondisi ini akhirnya berimbas pada profitabilitas industri khususnya di golongan I, termasuk HM Sampoerna sendiri yang terkena dampak langsung pada kinerja keuangan perusahaan, di mana laba bersih terus mengalami penurunan selama 3 tahun terakhir.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT