×
Ad

Konflik Timur Tengah Ganggu Pasokan Sulfur, Ini Strategi Petrokimia Gresik

Andi Hidayat - detikFinance
Rabu, 01 Apr 2026 17:22 WIB
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob/Foto: Dok. Petrokimia Gresik
Jakarta -

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob menyebut konflik geopolitik di Timur Tengah turut mengganggu pasokan dan harga sulfur dunia. Kondisi ini menuntut perusahaan untuk memperkuat strategi untuk mengamankan pasokan bahan baku.

Ia menjelaskan, saat ini 75% kebutuhan sulfur nasional masih berasal dari kawasan Timur Tengah. Kemudian terdapat sekitar 33% perdagangan sulfur dunia atau 20 juta ton per tahun berasal dari kawasan Teluk Persia.

"Sekitar 33% perdagangan sulfur dunia atau 20 juta ton per tahun berasal dari kawasan Teluk Persia, dan Indonesia masih mengimpor lebih dari 75% kebutuhan sulfur dari kawasan Timur Tengah. Konflik geopolitik dan gangguan jalur logistik global dapat mempengaruhi harga dan pasokan sulfur dunia," ujar Daconi dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).

Daconi menjelaskan, kebutuhan asam sulfat nasional saat ini mencapai sekitar 19 juta ton per tahun, dengan kontribusi terbesar dari sektor pupuk dan industri hilirisasi nikel. Kondisi ini membuat Indonesia menjadi salah satu pusat permintaan sulfur dunia.

Petrokimia Gresik turut berperan untuk industri tersebut. Perusahaan memiliki pabrik asam sulfat dengan kapasitas produksi mencapai 1,8 juta ton per tahun yang terintegrasi dengan produksi pupuk dan produk kimia lainnya.

"Kami memiliki fasilitas pengolahan sulfur menjadi asam sulfat yang terintegrasi dengan proses produksi pupuk dan produk kimia. Melalui fasilitas ini, Petrokimia Gresik juga berkontribusi pada penguatan pasokan bahan baku industri dalam negeri," jelas Daconi.




(ahi/ara)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork