×
Ad

Sumbangsih Industri Tambang untuk Ekonomi dan Sosial di Daerah

Moch Prima Fauzi, Hana Nushratu Uzma - detikFinance
Selasa, 19 Mei 2026 10:07 WIB
Foto: Harita Nickel
Jakarta -

Hilirisasi nikel dinilai turut mendorong pemerataan pembangunan dan memperkuat kemandirian ekonomi daerah. Salah satu indikatornya terlihat dari meningkatnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Halmahera Selatan dan Provinsi Maluku Utara (Malut) dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya, mineral banyak dijual dalam bentuk mentah sehingga nilai tambah ekonomi belum sepenuhnya dirasakan daerah. Kini, dengan hadirnya fasilitas pengolahan dan industri turunan, aktivitas ekonomi berlangsung langsung di wilayah penghasil.

Kondisi tersebut turut membuka ruang fiskal yang lebih besar bagi pemerintah daerah untuk mendukung pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, layanan publik, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.

Secara tidak langsung, kehadiran industri hilirisasi juga berkontribusi terhadap meningkatnya kapasitas pembangunan daerah di Halmahera Selatan dan Malut.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan RI (Kemenkeu), PAD Kabupaten Halmahera Selatan dan Provinsi Malut mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Perolehan dan Peningkatan PAD Halmahera Selatan (2020-2025)

Pada tahun 2020, realisasi PAD Kabupaten Halmahera Selatan tercatat sebesar Rp 75,40 miliar. Tahun berikutnya (2021) mengalami peningkatan menjadi Rp 85,43 miliar, atau naik sekitar Rp 10,03 miliar. Namun, pada tahun 2022 terjadi penurunan menjadi Rp 71,23 miliar, turun sekitar Rp 14,20 miliar dari tahun sebelumnya.

Peningkatan signifikan baru terjadi pada tahun 2023, di mana PAD melonjak drastis menjadi Rp 180,92 miliar. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 2022, dengan kenaikan mencapai Rp 109,69 miliar.

Tren positif berlanjut pada tahun 2024, dengan realisasi PAD sebesar Rp 231,66 miliar, naik Rp 50,74 miliar dari tahun 2023. Puncak capaian PAD selama periode ini terjadi pada tahun 2025, yaitu sebesar Rp 244,07 miliar, dengan peningkatannya sekitar Rp 12,41 miliar. dibanding tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, dari tahun 2020 hingga 2025, PAD Halmahera Selatan tumbuh sebesar Rp 168,67 miliar, atau meningkat lebih dari tiga kali lipat.

Perolehan dan Peningkatan PAD Maluku Utara (2020-2025)

Provinsi Maluku Utara mencatatkan PAD sebesar Rp 447,29 miliar pada tahun 2020. Tahun 2021 mengalami peningkatan menjadi Rp 552,35 miliar, naik Rp 105,06 miliar. Kenaikan yang lebih tajam terjadi pada tahun 2022, dengan realisasi PAD mencapai Rp 779,23 miliar, atau bertambah Rp 226,88 miliar dari tahun sebelumnya.

Pada tahun 2023, terjadi sedikit penurunan menjadi Rp 758,17 miliar, turun sekitar Rp 21,06 miliar. Namun, tahun 2024 menunjukkan lonjakan tertinggi sepanjang periode, yaitu mencapai Rp 1.082,09 miliar, naik Rp 323,92 miliar dari tahun 2023. Sayangnya, pada tahun 2025 PAD kembali menurun menjadi Rp 1.017,51 miliar, atau turun Rp 64,58 miliar dibanding tahun sebelumnya.

Meskipun fluktuatif, secara keseluruhan PAD Maluku Utara dari tahun 2020 ke 2025 mengalami peningkatan sebesar Rp 570,22 miliar, yang menunjukkan pertumbuhan lebih dari dua kali lipat. Lonjakan terbesar terjadi pada tahun 2024, sementara penurunan terlihat pada tahun 2023 dan 2025.

Selain itu, peningkatan aktivitas industri juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja formal di Malut. Tercatat, tingkat tenaga kerja formal di Malut berada di angka 34,37% pada 2022, 33,92% pada 2023, meningkat menjadi 35,24% pada 2024, dan kembali naik menjadi 35,49% pada 2025. Sementara itu, jumlah karyawan Harita Nickel yang berasal dari Malut mencapai 42,8% pada 2024.

Harita Nickel melalui program Mechanic Talent Pool Program (MTPP), yang berkontribusi dalam mendukung upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus sejalan dengan program nasional di bidang ketenagakerjaan dan pendidikan vokasi.

Selain itu, Harita Nickel juga melakukan kolaborasi dengan Pemprov Malut dalam menjalankan program Soligi Zero Stunting di Pulau Obi. Program Soligi Zero Stunting telah dijalankan sejak 2022 dengan memadukan intervensi gizi, edukasi kesehatan, dan penguatan pelayanan kesehatan masyarakat.

Program ini menjadi bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan sekaligus dukungan terhadap upaya Pemprov Malut dalam menekan angka stunting.

"Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama. Kami percaya, kesehatan anak adalah fondasi penting bagi masa depan yang lebih kuat dan sejahtera," papar Community Development Manager Harita Nickel Broto Suwarso, dikutip dari detikNews, Sabtu (16/5/2026).

Foto: Harita Nickel

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Halmahera Selatan, Nasyir J. Koda, mengapresiasi perusahaan yang dinilai konsisten memenuhi kewajibannya kepada daerah.

"Pemerintah daerah tentu memberikan apresiasi kepada PT Harita Group yang konsisten dan patuh dalam memenuhi kewajibannya, terutama dalam pembayaran pajak dan retribusi daerah," ujar Nasyir.

Menurutnya, kepatuhan perusahaan dalam memenuhi kewajiban daerah menjadi bagian penting dalam menciptakan tata kelola investasi yang sehat. Sebab, aktivitas usaha yang berkembang di daerah idealnya turut memberikan dampak terhadap penerimaan daerah dan pelayanan publik.

"Kontribusi ini sangat nyata. Dari target Rp 8 miliar, sampai triwulan II tahun 2026 sudah mencapai Rp 20 miliar. Ini menunjukkan bahwa kepatuhan investasi dapat memberi nilai tambah yang besar bagi daerah," katanya.

Deputi Bidang Percepatan Pemberdayaan Kapasitas dan Penyediaan Akses, Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Novrizal Tahar menilai Harita Nickel berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat dan pengentasan kemiskinan di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Hal ini dia sampaikan sebagai respons atas program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) oleh Harita Nickel. Menurutnya, Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh Harita Nickel tidak sekadar bersifat bantuan, tetapi berorientasi pada kemandirian dan pemberdayaan berkelanjutan.

"Apa yang dilakukan Harita Nickel di Pulau Obi patut diapresiasi. Programnya bukan sekadar simbolik, tapi betul-betul meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ini contoh nyata bagaimana CSR dapat menjadi mesin penggerak ekonomi lokal," ujar Novrizal dikutip beberapa waktu lalu.

Diketahui, Harita Nickel turut membangun berbagai infrastruktur dasar di sekitar wilayah operasionalnya, termasuk sistem air bersih, jaringan listrik, dan perumahan layak huni bagi masyarakat lokal. Pendekatan ini memperkuat fondasi sosial-ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas hidup mereka secara menyeluruh.



Simak Video "Luar Biasa! Harita Nickel Sulap Limbah Jadi Solusi Restorasi Laut!"

(anl/ega)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork