×
Ad

Wamenperin Sebut Industri Tekstil RI Kuat Hadapi Pelemahan Rupiah

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 12 Jun 2026 08:25 WIB
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza (baju biru) saat berkunjung ke pabrik tekstil di Bandung./Foto: Istimewa
Jakarta -

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan gejolak pasar modal tidak berdampak signifikan terhadap industri nasional, khususnya industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Hal itu disampaikan Riza saat mengunjungi PT Gajah Angkasa Perkasa, di Bandung, Jawa Barat. Kunjungan Riza dalam rangka mengecek sejumlah sektor industri, termasuk industri tekstil, di tengah kekhawatiran publik terkait dampak melemahnya rupiah dan ketidakstabilan pasar modal saat ini.

"Belakangan banyak isu bahwa kenaikan mata uang asing dan penekanan rupiah kondisi pasar seolah-olah pengaruhnya besar pada industri. Tapi, kita tahu bahwa justru sekarang sektor-sektor tertentu mengalami panen peluang. Kelihatan bahwa industri kita punya fundamental yang baik, dan hampir tidak terpengaruh oleh lemahnya atau tidak stabilnya nilai tukar rupiah maupun pasar modal. Saya juga melihat industri nasional kita memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi situasi yang tidak stabil secara global," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (12/6/2026).

Dalam kunjungan ini, Riza menengok langsung proses produksi di PT Gajah Angkasa Perkasa. Dia sekaligus mengapresiasi pencapaian industri garmen tersebut yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, namun juga merambah pasar mancanegara.

Dengan demikian, lanjut Riza, ini membuktikan bahwa produk-produk tekstil Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk-produk impor, baik secara kualitas maupun harga.

"Kita bisa bersaing dengan harga tekstil yang diproduksi negara lain bahkan dengan harga di pasar. Ini membanggakan. Tentu, pemerintah juga akan terus mendukung industri tekstil di Indonesia," kata Riza.

Ia juga mendorong industri tekstil untuk memanfaatkan tantangan geopolitik untuk meningkatkan ekspansi pasar ekspor. Salah satunya, melalui perjanjian dagang Indonesia dengan Eropa yang memberikan bea masuk nol persen untuk produk tekstil Indonesia.

"Pemerintah juga mengatur supaya di border betul-betul ketat. Presiden sudah memerintahkan agar bea cukai jadi kekuatan ekonomi kita, dengan membatasi barang ilegal, tidak memenuhi standar, dan barang yang merusak pasar dalam negeri," sebut Riza.

Sementara itu, Direktur Gajah Group, Dedy Zein mengatakan bahwa PT Gajah Angkasa Perkasa saat ini mampu memproduksi total 3 juta meter produk garmen dalam sebulan, guna memenuhi pasar dalam negeri dan ekspor, khususnya kebutuhan seragam militer dan pemerintahan di Malaysia, Jepang, dan India.

Dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 85%, Dedy optimistis pihaknya dapat terus menambah negara tujuan ekspor, dengan beberapa target termasuk Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Prancis, Inggris, Spanyol, Korea Selatan, Vietnam, Papua Nugini, dan Kanada.

"Kami berharap ke depannya bisa mengekspor bahan jadi, specialty menjadi uniform (seragam) militer dan pemerintah di negara lain," tutur Dedy.

Diketahui, selain baju seragam, PT Gajah Angkasa Perkasa dalam lini usahanya juga memproduksi berbagai produk garmen, antara lain sepatu, tanda pangkat, kain batik, hingga sepatu.




(ily/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork