×
Ad

Investor Antre Bikin Pabrik di RI, Ini Buktinya

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 03 Jul 2026 14:40 WIB
Ilustrasi KEK. Foto: ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra
Jakarta -

Minat investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) masih menunjukkan tren positif. Sejumlah kawasan industri telah mengajukan perluasan lahan karena kapasitas yang tersedia sudah terpakai seluruhnya.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan kondisi tersebut terutama terjadi pada KEK berbasis manufaktur. Menurutnya, perluasan kawasan menjadi kebutuhan mendesak agar Indonesia tetap mampu menampung investasi, termasuk investor asing.

"Dengan usul perluasan artinya apa? Kapasitasnya itu sudah utilize semuanya, sudah terpakai, sehingga pada saat akan ada investasi masuk yang baru, investor asing yang masuk, nah ini mereka mengajukan perluasan lahan, dan rata-rata dua kali lipat,"kata Susiwijono di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (3/7/2026).

Dia mencontohkan KEK Kendal yang saat ini telah terisi penuh. Kawasan tersebut menampung sekitar 140 industri dari berbagai sektor, mulai dari elektronik, tekstil, peralatan rumah tangga, hingga rantai pasok industri baterai seperti anoda dan katoda.

Menurut Susiwijono pengelola KEK Kendal kini mengusulkan tambahan lahan sekitar 1.000 hektare setelah kawasan seluas seribuan hektare yang ada saat ini habis terisi. Kondisi serupa juga terjadi di KEK Gresik.

"Nah itu dengan luasan mereka hanya seribuan gitu, mereka sudah penuh ngajuin lagi sekarang perluasan seribu. Artinya KEK cukup dari sisi capaian untuk menarik investasi sangat bagus. Karena faktanya investor asing masih antre masuk ke situ," tutur Susiwijono.

Sementara itu, KEK Galang Batang di Kepulauan Riau yang berfokus pada hilirisasi bauksit dan alumina bahkan mengusulkan perluasan hingga 2.700 hektare. Tambahan lahan tersebut diproyeksikan untuk menampung investasi baru di sektor smelter, produk hilir aluminium, hingga fasilitas pemurnian lainnya.

Pengembangan KEK Data Center
Susiwijono menambahkan, pemerintah akan mengembangkan KEK data center dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini guna mendukung perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital nasional.

Saat ini, Indonesia telah memiliki KEK Nongsa Digital Park di Batam yang menjadi pusat pengembangan industri digital. Menurut Susiwijono, lebih dari 10 perusahaan data center berskala global telah beroperasi di kawasan tersebut.

"KEK data center kan sudah ada di Nongsa, Nongsa Digital Park yang di Batam. Itu kan juga lebih dari 10 data center besar dunia sudah ada di Nongsa di Batam. Namanya KEK Nongsa Digital Park," sebut Susiwijino.

Namun, kebutuhan pusat data diperkirakan akan melonjak tajam. Kapasitas pusat data nasional saat ini baru mencapai sekitar 600 megawatt, sementara rencana investasi baru yang tengah dipersiapkan jauh melampaui angka tersebut.

Salah satu investasi terbesar datang dari grup DAMAC asal Uni Emirat Arab (UEA). Susiwijono mengatakan perusahaan tersebut tengah menyiapkan investasi data center miliaran dolar AS dengan kapasitas sekitar 1,2 hingga 1,3 gigawatt.

"Ada hitungannya kok, setiap 1 megawatt data center itu perlu sekian juta USS. Nah kalau 1,2 gigawatt atau 1,3 gigawatt kan berarti 1.300 kali sekian juta US$, pasti bilion US$," ungkap dia.




(ily/hal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork