×
Ad

Sawit Bakal Masuk Bursa Mineral, Begini Respons Pengusaha

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 19 Agu 2026 11:51 WIB
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono/Foto: Retno Ayuningrum/detikcom
Jakarta -

Pengusaha sawit merespons rencana pemerintah membentuk Bursa Mineral dan Komoditas Strategis. Bursa tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027 dan berpotensi memperdagangkan sejumlah komoditas, termasuk crude palm oil (CPO) atau olahan minyak kelapa sawit.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan, saat ini perdagangan sawit sebenarnya sudah difasilitasi melalui Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX). Namun, volume transaksi sawit di bursa tersebut masih relatif kecil.

"Sebenarnya sudah ada bursa untuk sawit yaitu ICDX, hanya volume transaksinya masih kecil," ujar Eddy kepada detikcom, Rabu (19/8/2026).

Menurut Eddy, selama ini transaksi sawit lebih banyak dilakukan secara business to business (B2B) karena sebagian besar perusahaan perkebunan kelapa sawit bukan merupakan eksportir. Produksi mereka dinilai tidak cukup ekonomis untuk diekspor secara langsung.

Untuk kebutuhan ekspor, pembeli biasanya merupakan perusahaan eksportir yang mengumpulkan pasokan dari beberapa perusahaan perkebunan. Selain itu, eksportir juga menggunakan produksi mereka sendiri.

"Memang saat ini transaksi lebih ke B2B sebab kebanyakan perusahaan perkebunan kelapa sawit bukan eksportir, karena jumlah produksinya tidak ekonomis untuk diekspor. Jadi apabila akan diekspor maka pembelinya perusahaan memang eksportir, mereka membeli dari beberapa perusahaan, baru ekspor, selain mereka juga produksi sendiri," jelas Eddy.

Transaksi B2B dinilai lebih menarik untuk pembelian di dalam negeri, terutama bagi perusahaan menengah dan kecil. Pasalnya, pembayaran dapat dilakukan di muka hingga 100% dengan penyerahan barang dalam waktu satu hingga dua minggu yang masih masuk kategori transaksi spot.

Terkait rencana pembentukan bursa baru, Eddy mengatakan pihaknya tidak mempermasalahkan. Namun, ia menekankan bursa baru nantinya harus mampu bersaing dengan bursa yang sudah ada.

"Untuk rencana akan dibentuk lagi bursa tidak ada masalah, yang penting bisa bersaing dengan bursa yang telah ada. Sebenarnya mengenai harga saat ini juga sudah transparan," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan beberapa komoditas kritis dari Indonesia, termasuk CPO hingga nikel dipertimbangkan masuk bursa tersebut. Meskipun belum ada keputusan resmi terkait komoditas apa saja yang masuk Bursa Mineral.

"Belum, belum diputuskan. yang pasti adalah komoditas-komoditas yang memang itu produksi kita yang paling utama. Misalnya CPO, nikel, batu bara," ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (17/8/2026).

Ditanya bentuk bursanya seperti apa, Prasetyo enggan bicara banyak. Dia justru membocorkan nama bursa yang akan meluncur, yaitu Indonesia Commodity Exchange (Icomex).

Tonton juga video "Konflik Lahan Berujung Kantor Perkebunan Sawit di Lampung Tengah Dibakar Warga"




(ily/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork