Kurangi Beban Bunga, Waskita Jual 9 Ruas Tol Rp 10 T

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 25 Mar 2021 18:54 WIB
Pekerja melakukan proses pembuatan Spun Pile dan Box Girder di Pabrik Waskita Beton Precast, Karawang, Jawa Barat, Rabu (3/8/2016). Di pabrik yang seluas 15 ha memiliki kapasitas produksi 400.000 ton per tahun. Dipabrik ini diproduksi berbagai macam beton diantaranya Spun Pile, Box Girder, Concrete Barrier, PC-I Girder, Concrete Rail Way dan CCSP. Produksi dipabrik karawang ini didistibusikan untuk kebutuhan proyek tol becakayu, solo kertosono, giant sea wall, proyek jalan layang tendean cileduk dan lrt Palembang. Agung Pambudhy/Detikcom.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

PT Waskita Karya (Persero) Tbk tahun ini menargetkan restrukturisasi keuangan mampu menurunkan tingkat bunga pinjaman dan penyehatan arus kas perusahaan.

Presiden Direktur Waskita Destiawan Soewardjono mengungkapkan saat ini kinerja perusahaan tertekan oleh beban bunga utang investasi jalan tol yang mencapai Rp 4,6 triliun di tahun 2020. Karena itu untuk mengendalikan beban bunga, Waskita juga akan melepas ruas-ruas tol yang telah selesai pembangunannya.

Tahun ini, Waskita menargetkan melepas 8-9 ruas tol dengan target total nilai transaksi sekitar Rp 10 triliun. Dengan pelepasan ruas di tahun ini, ditargetkan Waskita dapat melakukan dekonsolidasi utang mencapai Rp 17-18 triliun.

"Selain melalui dekonsolidasi, Waskita juga akan menggunakan hasil divestasi untuk pembayaran kewajiban kepada kreditur," kata dia dalam siaran pers, Kamis (25/3/2021).

Sepanjang 2020 Waskita mencatatkan perolehan Nilai Kontrak Baru sebesar Rp 27 triliun. Pencapaian ini berada di atas target yang ditetapkan. Tingkat kemenangan tender juga mengalami peningkatan menjadi 35,2%.

Perolehan kontrak baru Waskita dari proyek infrastruktur konektivitas seperti jalan, jalan tol dan jembatan adalah 43%, proyek EPC sebesar 27%, proyek gedung 13%, proyek infrastruktur sumber daya air sebesar 8%, serta proyek dari anak usaha 9%.

Beberapa proyek besar yang diperoleh Waskita pada 2020 antara lain Proyek Tol Ciawi-Sukabumi seksi 3 dan 4 senilai Rp 3,3 triliun, proyek konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hydro Batang Toru dengan nilai Rp 887 miliar, bendungan Jragung paket 1 senilai Rp 733 miliar dan jaringan irigasi Rentang dengan nilai kontrak Rp 554 miliar.

Pendapatan usaha Waskita tahun 2020 sebesar Rp 16,2 triliun. Turunnya pendapatan usaha ini menyebabkan Waskita mencatatkan kerugian bersih. Penyebabnya adalah perlambatan aktifitas operasional proyek selama pandemi, beban overhead dari proyek dan pabrik yang terus berjalan, serta tertundanya divestasi asset jalan tol ke tahun 2021 yang mengakibatkan beban bunga investasi jalan tol masih sangat tinggi.

Arus kas perseroan dari aktivitas operasi sebesar Rp 411 miliar. Hal ini didorong oleh penerimaan pembayaran dari proyek yang dikerjakan dengan skema progress payment serta pembayaran proyek turnkey seperti proyek tol Jakarta-Cikampek Elevated II senilai Rp 6 triliun pada awal 2020.

Tahun 2021 Waskita menargetkan nilai kontrak baru sebesar Rp 26 triliun. 80% dari target tersebut terdiri dari proyek yang berasal dari pasar eksternal hanya 20% yang merupakan proyek investasi.

(kil/eds)