Rencana Besar Bandara Kertajati: Jadi Bengkel Pesawat-Pusat Logistik

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 27 Sep 2021 14:26 WIB

Pengembangan lainnya di Bandara Kertajati adalah pembuatan cargo village alias pusat logistik kargo. Akan ada terminal kargo yang berbentuk one stop service di Bandara Kertajati.

Artinya, layanan kargo bakal dibuat di dalam suatu komplek yang terintegrasi seluas 80 hektare, yang bakal ditempatkan di runway ke dua Bandara Kertajati. Isinya mulai dari imigrasi, urusan cukai, sampai ke urusan karantina. Malah menurutnya, fasilitas ini bisa lebih baik dari Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng.

"Kalau dilihat di bandara lain ya, bandara Soekarno Hatta, kan terpisah-pisah. Nah ini cargo village itu memadukan seluruh kepentingan, dan pemangku kepentingan atau stakeholder-nya seperti custom, immigration, quarantine, karantina aja banyak tuh karantina kesehatan, tumbuhan, hewan, itu juga kalau mereka ekspor impor harus ada lab-nya segala macam," papar Rafi.

"Itu semua ada di satu lokasi, di kita ada 80 ha, bangunnya tahapan pasti ya," ungkapnya.

Rafi bilang proses tender juga sedang dilakukan untuk rencana pembuatan cargo village. Dia sudah menawarkan proyek ini dalam West Java Investment Summit, katanya sudah ada 18 tawaran investor yang masuk. Intinya, cargo village bakal membuat Bandara Kertajati jadi sentra logistik terbesar di Indonesia.

"Kita akan menjadikan sentra logistik, akan jadikan hub logistik di sini. Kita perlu membuat terminal kargo terpadu, one stop service," kata Rafi.

Keuntungannya, Rafi mengatakan dwelling time alias proses mata rantai kargo yang panjang bakal makin efektif dengan cargo village. Efisiensi bisa digenjot sampai 40% dengan penurunan biaya logistik sampai 20%.

Di sisi lain, fasilitas ini juga bakal tersambung dengan bengkel pesawat MRO Kertajati. Katanya, dengan adanya bengkel pesawat maka para penyedia layanan kargo besar bisa merasa nyaman dalam mendaratkan pesawatnya karena ada fasilitas bengkel pemeliharaan yang baik.

"Nanti kalau mau datangkan air freighter yang besar-besar, DHL, Fedex, yang bisa bawa kargo sampai 50 ton kapasitasnya itu kalau MRO tadi mereka akan yakin terbang ke sini, jadi nyaman karena bengkel ada di sini," ujar Rafi.

Pengembangan tidak berhenti di situ, sampai 2030 nanti, Rafi bilang Kertajati bakal menjadi aerocity. Kawasan di sekitarnya akan berubah jadi kawasan industri dan memiliki area residensial dan komersial.

Dia mengatakan sesuai instruksi presiden, beberapa perusahaan manufaktur pelat merah bakal membuka pabrik juga di dekat Bandara Kertajati. Dua yang dia sebut adalah pabrikan senjata PT Pindad, dan pabrikan pesawat PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Bahkan, dia mengatakan Pindad sudah meminta lahan 120 hektare untuk membangun pabrik.

"Karena apa? Karena kalau Pindad ke sini, pabrikasinya di sini, logistiknya supply chain-nya kalau mau menerbangkan akan memotong biaya dan waktu gitu," ujar Rafi.

Dengan sesama BUMD, pihaknya juga sudah bekerja sama dengan PT Agro Jabar. Kertajati bakal jadi pusat distribusi pangan, pengiriman produk pangan Agro Jabar bakal dilakukan di Kertajati.

Pihak swasta juga sudah ada yang minat, bahkan Rafi mengatakan sudah ada ketertarikan dari e-commerce besar untuk menjadikan Bandara Kertajati hub logistik. Ada Shopee dari Singapura hingga Amazon dari Amerika Serikat yang mulai membuka potensi bisnis di Kertajati.

Ada juga salah satu pabrikan perakit handphone yang tidak disebutkan Rafi berencana membuat warehouse assembly alias pabrik perakitan di dekat Kertajati. Nantinya proses pengiriman segala macam komponen dan barang jadinya akan melewati Kertajati.

"Lalu kemarin juga sudah nanya-nanya ya, Shopee, Amazon.com, juga sudah ke kita juga," kata Rafi.


(hal/ang)