Insiden kereta terjadi Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, pada Senin (27/4) malam kemarin, melibatkan KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line. Terakhir, sebanyak 14 orang dilaporkan meninggal dan ada 84 orang korban terluka.
Peristiwa tragis ini kemudian memunculkan pertanyaan, mengapa kereta tersebut tidak langsung berhenti untuk menghindari terjadinya kecelakaan?
PT KAI (Persero) sebelumnya telah memberikan penjelasan mengenai hal ini menyusul insiden tertempernya truk oleh kereta api di Semarang, Jawa Tengah, dan Tanjung Karang, Lampung, pada Selasa, 18 Juli 2023.
Dalam unggahan di akun Instagram resmi perusahaan (kai121_), KAI menjelaskan kereta api tidak bisa berhenti atau rem mendadak karena panjang dan bobot rangkaian. Semakin panjang dan berat rangkaian kereta, maka semakin panjang waktu dan jarak yang dibutuhkan bagi kereta untuk benar-benar bisa berhenti.
Di Indonesia, rata-rata kereta penumpang terdiri dari 8-12 gerbong dengan bobot mencapai 600 ton. Bobot kereta ini belum termasuk berat penumpang dan barang yang dibawanya. Dengan kondisi tersebut, kereta membutuhkan banyak energi untuk membuat rangkaian terhenti.
Selain itu, terdapat sejumlah faktor lain yang berpengaruh pada jarak pengereman yang dibutuhkan kereta agar bisa berhenti. Salah satunya adalah kecepatan, di mana semakin tinggi kecepatan kereta api maka semakin panjang juga jarak pengeremannya.
Kemudian ada juga faktor kemiringan lintasan rel, persentase gaya pengereman, jenis kereta api (kereta penumpang atau barang), jenis rem (blok komposit atau blok besi cor), dan kondisi cuaca.
Lebih lanjut, KAI menjelaskan sistem pengereman yang dipakai pada K.A saat ini menggunakan jenis rem udara. Cara kerjanya adalah dengan mengkompresi udara dan disimpan hingga proses pengereman terjadi.
"Saat masinis mengaktifkan sistem pengereman, udara tadi akan didistribusikan melalui pipa kecil di sepanjang roda dan membuat friksi (gesekan) pada roda. Friksi ini yang akan membuat kereta berhenti," ungkap KAI.
Walaupun kereta telah dilengkapi dengan rem darurat, rem ini tetap tidak bisa berhenti mendadak. Rem ini hanya menghasilkan lebih banyak energi dan tekanan udara yang lebih besar, untuk menghentikan kereta lebih cepat.
Belum lagi kereta api hanya bisa bergerak di atas rel yang telah ditentukan sehingga tidak bisa bermanuver dengan bebas seperti kendaraan lainnya di jalan raya. Rel memiliki arah yang tetap dan lintasan yang kaku sehingga tidak memungkinkan belokan tajam atau gerakan menghindar secara tiba-tiba.
"Jadi, meskipun masinis melihat ada yang menerobos palang kereta, biasanya akan tetap terlambat melakukan pengereman," jelasnya lagi.
Bahayanya Jika Kereta Melakukan Pengereman Mendadak
Sebagaimana yang sudah dijelaskan KAI sebelumnya, rem pada rangkaian kereta api bekerja dengan tekanan udara. Rem pada roda dihubungkan ke piston dan susunan silinder.
"Mekanisme yang mengurangi tekanan udara di kereta api, akan memaksa rem mengunci dengan roda. Jika tekanan dilepaskan secara tiba-tiba akan menyebabkan pengereman yang tidak seragam, sehingga rem bekerja lebih dulu dari titik keluarnya udara," kata KAI.
Bila terjadi, pengereman yang tidak seragam ini bisa menyebabkan kereta dan gerbong tergelincir, atau terseret, hingga terguling. Hal ini tentu akan lebih membahayakan banyak jiwa, khususnya para penumpang KA.
Pada akhirnya pengereman mendadak pada moda transportasi kereta bisa sangat berisiko terutama bagi keselamatan penumpang. Berpotensi menimbulkan kerusakan lebih besar.
Lihat juga Video dari Udara: Evakuasi Korban Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur
(igo/fdl)