Follow detikFinance
Selasa, 10 Apr 2018 13:57 WIB

Ellen May: Isu Perang Dagang Memanas, Berkah Untuk Saham CPO?

Ellen May - detikFinance
Foto: Dokumentasi Ellen May Foto: Dokumentasi Ellen May
Jakarta - Pernyataan China untuk memberikan tarif impor terhadap sejumlah barang Amerika ternyata justru memberikan keuntungan tak terduga untuk sektor CPO. Ingin tahu kenapa bisa begitu? Lalu, saham apa saja yang menarik dari sektor CPO saat ini? Simak ulasannya berikut ini.

Seperti yang kita ketahui, pada pekan kemarin China akhirnya melakukan aksi balasan sejumlah kebijakan Amerika, dengan menetapkan tarif impor hingga 25% untuk sejumlah produk Amerika terutama kedelai.

Sebagai negara dengan jumlah ekspor kedelai yang cukup besar, balasan tarif dari China ini langsung menerkam Dow Jones hingga terjatuh -2,34%. Namun berbeda dengan Indonesia yang tidak memiliki sangkut paut dengan hal itu. Hal tersebut justru malah memberikan peluang bagi produsen minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO), seperti Indonesia dan Malaysia.

Kenapa bisa begitu?

Perlu Anda ketahui, China selama ini merupakan importir produk pertanian terbesar di dunia. Di tahun 2017 saja, China menyerap 64% dari produk kedelai global, atau setara dengan 93,5 juta ton. Sementara itu, Amerika merupakan produsen kedelai terbesar. Tahun lalu, produksinya mencapai 116,9 juta ton
dan diperkirakan naik menjadi 119,5 juta ton pada tahun 2018 ini.

Nah, dengan adanya tarif impor dari China tersebut, maka harga kedelai tentunya akan semakin mahal, sehingga China akan lebih memilih untuk meng-impor CPO. Hal ini tentunya akan memberikan keuntungan terhadap harga CPO, mengingat CPO merupakan salah satu barang subtitusi dari minyak kedelai dengan harga yang cukup murah saat ini.

Sentimen Positif Lainnya

Disamping sentimen dari China, ternyata dari Indonesia sendiri terdapat sentimen positif yang akan mendukung pergerakan CPO, yaitu Hari raya Idul Fitri.
Indonesia sendiri akan mulai melakukan persiapan untuk perayaan hari raya Idul Fitri yang jatuh pada bulan Juni nanti yang berpotensi turut memperkuat harga CPO. Konsumsi CPO di negara-negara musim biasanya biasanya akan meningkat selama musim perayaan karena pemanfaatan CPO dalam minyak goreng akan meningkat.

Hal ini tentunya juga berlaku untuk beberapa negara muslim lainnya seperti Iran, Arab Saudi, Turki dan lain-lain yang terlihat mulai memperbesar permintaan CPO mereka. Berdasarkan data dari SGS Malaysia, ekspor CPO Malaysia ke India telah naik 78% pada Maret 2018 dibandingkan periode Februari 2018. Pada periode yang sama, pengiriman CPO ke Pakistan juga melambung yaitu mencapai 116%, dengan ekspor tertinggi di wilayah Timur Tengah yang melesat hingga 244%.

Namun harus diingat, bahwa kenaikan CPO ini kemungkinan hanya akan terjadi untuk jangka pendek saja. Hal ini lantaran dipengaruhi oleh kebijakan China yang masih mengutamakan penggunaan minyak kedelai, serta rencana India untuk menaikkan pajak berpotensi membatasi ruang pergerakan harga
CPO.

Kemudian saham-saham apa yang masih bisa dibeli saat ini? Saham apa saja yg Untuk saat ini kami masih menjagokan beberapa saham seperti LSIP, BWPT dan UNSP, mengingat kedua saham memiliki likuiditas yang tinggi, valuasi yang cukup murah dan grafik teknikal yang cukup bagus. Beberapa waktu lalu, DOID akhirnya merilis kinerja keuangannya dengan hasil yang cukup memuaskan.

Lantas, seberapa besar kah potensi DOID saat ini? Apakah hasil kinerja tersebut dapat mendorong naik harga sahamnya? Simak selengkapnya hanya di sini. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed