ADVERTISEMENT

Argentina Kembali Gagal Bayar Utang

- detikFinance
Kamis, 31 Jul 2014 10:10 WIB
foto:reuters
New York -

Negosiasi soal pembayaran utang jatuh tempo antara pemerintah Argentina dengan para kreditur tak mencapai kesepakatan pada Rabu. Kondisi ini akan mendorong Negeri Tango tersebut mengulangi default atau gagal bayar utang yang kedua kali sejak 2001 atau selama 13 tahun terakhir.

Pihak lembaga pemeringkat utang, Standard & Poor's (S&P) memposisikan Argentina dalam status "Selective default'. Hal ini setelah Menteri Ekonomi Argentina Axel Kicillof mengkonfirmasi bahwa tidak ada kesepakatan dengan kreditur.

Artinya negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Amerika Latin tersebut tidak mampu untuk memenuhi kewajiban pembayaran tersebut pada Rabu tengah malam.

"Sayang sekali tak capai kesepakatan dan Argentina dalam waktu dekat akan default," kata pengacara yang ditunjuk oleh pengadilan AS sebagai mediator negosiasi, Daniel Pollack seperti dikutip dari AFP, Kamis (31/7/2014)

Menteri Ekonomi Argentina Axel Kicillof menyayangkan sikap kreditur yang menuntut pembayaran penuh dan menolak kompromi.

"Mereka memaksakan kepada kami untuk sesuatu yang ilegal," kata Kicillof.

Sebelumnya, Axel Kicillof terbang ke New York, pada hari Selasa untuk melakukan negosiasi dengan para kreditur.

Usai rapat 12 jam pertemuan, Kicillof belum mencapai kesepakatan. Pertemuan negosiasi dilanjutkan pada Rabu.

Jumlah utang yang masih harus dibayar Argentina kepada para kreditur sebesar lebih dari US$ 1,3 miliar.

Argentina seharusnya melakukan cicilan pembayaran US$ 539 juta terhadap obligasi yang direstrukturisasi pada 30 Juni 2014, dengan masa tenggang 30 hari, yang berakhir Rabu kemarin.

Argentina menyatakan gagal bayar utang sebesar US$ 100 miliar pada 2001 dan harus menjalani program restrukturisasi. Konsekuensinya, nilai obligasi yang diterbitkan Argentina berkurang 70% dari nilai sesungguhnya

Hampir 92% dari para pemegang surat utang negara itu bersedia nilai piutang mereka berkurang . Namun kreditur dari Capital dan Aurelius Capital Management tetap menuntut Argentina membayar utangnya 100% sebesar US$ 1,3 miliar plus bunga.

Kalangan analis memperingatkan kondisi default akan membuat ekonomi Argentina makin terpuruk lebih dalam, memperburuk inflasi, kenaikan harga 15% pada semester I-2014, dan adanya devaluasi lain mata uang peso.

Dampak adanya default yang kedua ini diperkirakan jauh lebih kecil dibandingkan 2001 lalu, namun kalangan analis mengatakan Argentina telah dikucilkan dari pasar keuangan global.

(hen/wij)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT