Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 13 Jan 2020 19:39 WIB

Bom Waktu Skandal Jiwasraya Mirip Skema Ponzi

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Skandal yang terjadi di PT Asuransi Jiwasraya berlangsung selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya meledak sejak terkuak ada yang aneh dalam laporan keuangan di 2017.

Pengamat perpajakan Yustinus Prastowo menilai apa yang terjadi di Jiwasraya seperti skema ponzi. Skema ini yang biasa digunakan dalam kegiatan bisnis MLM yang memberi keuntungan diawal kemudian meledak di akhir.

Pria yang akrab disapa Pras menjelaskan, sejak 2006 sudah tercium adanya aksi poles laporan keuangan atau window dressing. Namun dia juga heran kenapa hal itu tidak tercium oleh otoritas terkait.

"2006 sudah ada rekayasa akuntansi kok tidak terdeteksi. Itu window dressing, melakukan permak laporan keuangan seperti operasi plastik, biar kelihatan cantik. Jadi yang terjadi harusnya rugi jadi laba, atau laba kecil jadi besar," terangnya di kantor IAPI, Jakarta, Senin (13/1/2020).


Lompat ke 2012, saat itu Jiwasraya tergoda untuk keluar dari bisnis utamanya asuransi. Perusahaan mulai melirik bisnis investasi dengan mengeluarkan produk JS Saving Plan.

JS Saving plan merupakan produk asuransi jiwa yang juga merupakan produk investasi. Produk ini ditawarkan melalui perbankan atau bancassurance.

Tidak seperti unit link yang risikonya dipegang pemegang polis, produk ini risikonya ditanggung perusahaan asuransi. Kemudian yang membuat produk ini menarik adalah tawaran return-nya yang dua kali lipat lebih tinggi dari deposito.

"Produk ini dijual melalui banyak bank, yang paling besar Standard Chartered. Lalu kenapa banyak orang Korea jadi korban karena di tawarkan juga lewat Bank KEB Hana. Deposito di bank itu ada Rp 10 triliun, masuklah Jiwasraya tawaran JS Saving Plan dengan imbalan 13%. Siapa yang nggak mau," terangnya.


Nah yang menurutnya, kesalahan manajemen adalah tidak memasukkan dana cadangan teknis. Bagi perusahaan asuransi setiap masuknya pendapatan premi maka perusahaan harus menyediakan cadangan teknis. Jika tidak ada cadangan teknis maka perusahaan rugi karena tak mampu membayar.

Nah lantaran biaya pembayaran polis yang semakin membengkak, manajemen mencari solusi dengan mencari instrumen investasi lainnya dengan harapan imbalan yang besar. Masuklah perusahaan ke saham gorengan.

"Dia cari instrumen yang seolah-olah menunjukkan kinerjanya bagus makanya investasi di saham gorengan," tambahnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com