Terpopuler Sepekan

Mengenal Kampoeng Kurma, Investasi Berbalut Agama yang Berujung Pailit

Soraya Novika - detikFinance
Sabtu, 29 Mei 2021 15:15 WIB
Kandasnya Kampoeng Kurma
Foto: Infografis detikcom/Denny: Infografis Kampoeng Kurma pailit
Jakarta -

Kampoeng Kurma belakangan jadi sorotan. Kegiatan usaha investasi berkedok konsep syariah itu kini resmi bangkrut. Akibatnya, banyak masyarakat yang telah menjadi korban.

Cara kerja Kampoeng Kurma dengan menawarkan investasi lewat menjual kavling. Nantinya, kavling ini ditanami kurma dan hasilnya akan dibagikan kepada pemilik.

Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat yang telah investasi tidak melihat hasilnya. Alhasil, uang mereka pun lenyap. Berikut perjalanan Kampoeng Kurma hingga diputus pailit:

1. Korban Teriak Uang Lenyap

Salah satu korban, Irvan Nasrun menjelaskan, awalnya Kampoeng Kurma menawarkan investasi kepada masyarakat dengan menjual kavling. Kavling itu akan ditanami kurma yang hasilnya akan dibagikan kepada pemilik kavling.

Namun, Irvan yang sudah menanamkan uangnya sejak awal 2018 mengaku belum melihat satu pun pohon kurma yang ditanamkan di kavlingnya.

"Terus pohon kurma juga belum ditanam, karena tidak ada dana. Heran saya, uang pembeli bisa habis," ujarnya kepada detikcom, Senin (11/11/2019).

Kampoeng Kurma menjanjikan membangun wilayah perkebunan kurma dengan berbagai fasilitas, mulai dari masjid, pesantren, pacuan kuda, dan fasilitas lainnya dengan nuansa Islami.

Masalah investasi ini tercium pada awal Januari 2019, perusahaan mengumpulkan para investor dan memberitahukan bahwa akan ada investor dari Malaysia yang mau mengakuisisi proyek Kampoeng Kurma. Perusahaan pun menjanjikan bagi investor yang ingin menarik dananya akan diberikan full ditambah 20% dari dana tersebut. Saat itu ada sekitar 50% pembeli kavling yang ingin refund, tapi kenyataannya tidak diproses.

"Pertengahan tahun sekitar bulan Juli, saya tanya ke management Kampoeng Kurma, untuk menanyakan progres. Oleh mereka pertanyaan saya tidak dijawab. Saya akhirnya mencari informasi, ternyata AJB yang dijanjikan untuk kavling saya belum bisa terlaksana, saya tanya kapan AJB, dijawab belum bisa AJB karena dana tidak ada," tuturnya.

Tak hanya itu, perusahaan bahkan memberikan cek kosong kepada pembeli yang ingin melakukan refund. Ada juga yang ternyata kavlingnya tidak ada, bahkan ada yang kavlingnya ternyata tanah kuburan.

"Ada kavling yang ada kuburannya, banyak pembeli yang dilempar-lempar karena tanah kavlingnya tidak ada," tambahnya.

Menurut Irvan total yang sudah terjual sekitar 4.000 kavling. Irvan sendiri membeli tujuh kavling dengan nilai Rp 417 juta.

2. Indikasi Total Kerugian Rp 10 M

Satgas Waspada Investasi (SWI) sebenarnya telah menghentikan kegiatan Kampoeng Kurma pada 28 April 2019 lalu karena terindikasi ilegal alias bodong. Ketua SWI Tongam L Tobing menjelaskan saat ini pihaknya sudah meminta Kementerian Kominfo untuk memblokir situs dan aplikasinya.

Ada dugaan jumlah kerugian mencapai Rp 100 juta/orang dengan total jumlah nasabah yang sudah melakukan pengaduan sebanyak 100 orang. Dengan kata lain, sudah ada indikasi kerugian hingga Rp 10 miliar.

"Masih dugaan (kerugiannya). Sekitar 100 orang dengan rata-rata Rp 100 juta/orang," kata Tongam saat dihubungi detikcom, Jumat (15/11/2019).

Tongam menambahkan, skema bisnis Kampoeng Kurma adalah menawarkan investasi unit lahan pohon kurma dengan skema 1 unit lahan seluas 400-500m2 ditanami lima pohon kurma dan akan menghasilkan Rp 175 juta per tahun. Selanjutnya, pohon kurma mulai berbuah pada usia 4-10 tahun dan akan terus berbuah hingga usia pohon 90-100 tahun.

Menurut Tongam, modus seperti itu tidak rasional karena menjanjikan imbal hasil tinggi dalam jangka waktu singkat, tidak ada transparansi terkait penggunaan dana yang ditanamkan, dan tidak ada jaminan pohon kurma yang ditanam tersebut benar tumbuh/tidak mati/tidak ditebang oleh orang lain.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2

Tag Terpopuler