Waspada! Kredit Macet 'Hantui' Sektor-sektor Ini

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 15 Jun 2021 15:06 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Waspada! Kredit Macet 'Hantui' Sektor-sektor Ini
Jakarta -

Indonesia saat ini sedang berupaya untuk memulihkan perekonomian. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memiliki rencana untuk melakukan intervensi sektor yang sulit bangkit di masa pandemi COVID-19.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan saat ini ada kelompok slow starter yang kontraksinya paling dalam, jauh di bawah industri. Memang kelompok ini sangat bergantung pada pulihnya aktivitas masyarakat.

"Kelompok slow starter seperti perdagangan, konstruksi, transport dan jasa-jasa, ini kelompok mengalami knock down effect yang sangat dalam karena COVID-19, korelasinya negatif. Ketika COVID-19 naik mereka turun, ketika COVID turun mereka pulih tapi masih slow. Ini jadinya tidak simetris," kata dia dalam raker komisi XI DPR, kemarin.

Menurut dia sektor manufaktur merupakan growth driver. Saat ini manufaktur RI sudah mulai tumbuh dan sudah mulai tumbuh. Namun profitabilitas baik kelompok slow starter dan growth driver masih sangat rendah.

"Kemampuan membayar kelompok resilience berada di atas threshold 1,5 sementara kelompok slow starter dan growth driver di bawah threshold atau rendah," imbuh dia.

Kemudian, Sri Mulyani menambahkan akan membuat interest coverage ratio (ICR) atau kemampuan membayar, baik itu bagi kelompok slow starter dan growth driver perlu diintervensi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"ICR atau kemampuan untuk membayar pinjaman. Ini persoalan di OJK, untuk memberikan pinjaman. Untuk sektor yang semakin terpukul makin tidak mau (bayar), ini kita perlu intervensi," jelasnya.

Menurut dia kalau yang terpukul pulih dan langsung dapat kredit baru. "Tapi yang terpukul dan tidak pulih, bank akan menghindari untuk meminjamkan di sektor ini. Ini tantangan pemulihan ekonomi dan akan terus membahasnya di KSSK," jelasnya.

Lihat juga video 'KuTips: Mau Dapat KUR Rp 100 Juta Buat Bisnis? Cek Syaratnya Yuk!':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/fdl)