Dalam Empat Bulan, Laba Bank BTN Melesat 52%

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 26 Mei 2022 16:45 WIB
Untuk mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. telah menyalurkan dana tersebut ke sektor produktif dan strategis khususnya kredit untuk mendukung  sektor pembiayaan properti dan kredit kontruksi perumahan. Tercatat hingga 30 Desember 2020, Bank BTN telah menyalurkan dana PEN tersebut meningkat menjadi sebesar Rp 33,66 triliun atau tiga kali lipat dari dana PEN yang ditempatkan Pemerintah di Bank BTN sebesar Rp 10 triliun sejak Maret 2020 lalu.
Foto: dok. Bank BTN
Jakarta -

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencatatkan laba bersih Rp 1 triliun atau tumbuh 52,22% dibandingkan periode April 2021 sebesar Rp 658,52 miliar.

Dikutip dari data laporan keuangan bulanan Bank BTN dalam situs resminya, tumbuhnya laba bersih ini ditopang oleh naiknya pendapatan bunga bersih yang sejalan dengan beban bunga yang berhasil ditekan.

"Pendapatan bunga bersih BTN Rp 4,86 triliun atau naik 31,03% dibandingkan periode April 2021 sebesar Rp 3,7 triliun," tulisnya, dikutip Kamis (26/5/2022).

Selain itu beban bunga tercatat Rp 3,28 triliun atau turun 30,48% dibandingkan periode April 2021 sebesar Rp 4,72 triliun.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo menyampaikan hingga akhir tahun nanti, perseroan membidik laba bersih tumbuh di kisaran 12%-14% yoy.

Untuk mencapai target tersebut, BBTN akan fokus ke segmen perumahan untuk milenial, mengoptimalkan kantor cabang sebagai point of sales and services, dan mengembangkan bisnis KPR non-subsidi.

Selain itu, Bank BTN juga terus membangun ekosistem digital untuk perumahan beserta rantai pasoknya, mempercepat bisnis proses, dan asset sales.

Transformasi digital yang dilakukan sejak dua tahun terakhir berhasil memberi dampak positif untuk akuisisi nasabah baru, perluasan akses pasar dan produktivitas karyawan.

"Kami optimis ke depan seiring pemulihan ekonomi dan berakhirnya pandemi. Tapi kami tetap waspada dengan kenaikan inflasi yang bisa jadi faktor pemberat," ujarnya.

(kil/eds)